Laporan varian baru virus corona B.1.1.529 atau yang kemudian diberi nama varian Omicron membuat heboh, tetapi seorang dokter yang pertama kali melaporkan kasus tersebut di Afrika Selatan mengatakan bahwa gejala varian baru tersebut ringan dan dapat dirawat di rumah.

Varian Omicron tersebut dilaporkan pertama kali di Afrika Selatan pada hari Selasa, 24 November 2021. Pada hari Kamis, 26 November 2021, Badan Kesehatan Dunia atau WHO telah meningkatkan status varian tersebut sebagai varian yang membutuhkan perhatian atau variant of concern karena dianggap lebih menular.

Virus Omicron memiliki sekitar 30 mutasi yang terjadi pada protein spike, yaitu bagian virus yang menyerupai tonjolan paku untuk mengikatkan diri pada sel tubuh manusia. Dari varian yang selama ini telah ada, varian omicron memiliki mutasi paling banyak. Tim peneliti bahkan hanya membutuhkan waktu 17 hari untuk menempatkan varian omicron ke kategori VOC (Varian of Concern). Varian delta yang sebelumnya sudah ditemukan pada Oktober 2020, tetapi baru meningkat ke kategori VOC pada 11 Mei 2021.

Meski demikian, Dr Angelique Coetzee, dokter yang pertama kali melaporkan varian omicron di Afrika Selatan mengatakan bahwa varian ini memiliki gejala lebih ringan

Salah seorang pasien yang dirawatnya mengatakan bahwa ia sangat lelah selama dua hari. Tubuhnya nyeri dan sakit kepala pada 18 November. Kliniknya kemudian berinisiatif melakukan tes COVID-19 dan ternyata mendapatkan hasil yang positif. Ditambah lagi pada hari yang sama, tiba-tiba beberapa pasien, setidaknya sejumlah tujuh orang, datang dengan gejala yang sama. Sejak itu, Coetzee menyadari ada “sesuatu yang lain” terjadi.

“Kami telah melihat banyak pasien Delta selama gelombang ketiga. Dan ini tidak sesuai dengan gambaran klinis,” katanya dan menambahkan bahwa ia memberi tahu NICD segera setelah mengetahui hasilnya. “Sebagian besar dari mereka melihat gejala yang sangat, sangat ringan dan sejauh ini tidak ada yang menerima pasien untuk operasi. Kami telah dapat merawat pasien ini secara konservatif di rumah,” tambahnya lagi.

Pasien yang dirawat oleh Coetzee tidak melaporkan kehilangan penciuman atau rasa, juga tidak ada penurunan besar dalam kadar oksigen. Varian tersebut mempengaruhi orang yang berusia 40 tahun atau lebih muda. Selain itu, hampir setengah dari pasien tersebut tidak divaksinasi.

“Keluhan klinis yang paling dominan adalah kelelahan yang parah selama satu atau dua hari. Dengan mereka, sakit kepala dan tubuh pegal-pegal,” ucapnya.

Berita varian baru yang muncul dari Afrika Selatan memicu reaksi cepat dari beberapa negara, termasuk Indonesia. Selain Indonesia, negara-negara Eropa dan Amerika Serikat juga telah melarang perjalanan udara dari negara-negara benua Afrika.

Mari kita tetap senantiasa berdoa agar virus ini tidak menjadi gelombang baru di Indonesia. Tetap dukung kebijakan-kebijakan pemerintah yang bermaksud mencegah varian virus ini.

Sumber : berbagai sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here