Kita sering mendengar kata “penglihatan” di dalam kekristenan. Penglihatan yang dimaksud disini adalah hal yang bersifat supranatural yang didapatkan baik oleh hamba Tuhan atau anak-anak Tuhan. Namun ternyata ada banyak orang Kristen yang belum memahami sesungguhnya arti penglihatan. Itulah sebabnya ada banyak anak Tuhan tidak percaya pada penglihatan, ada pula yang meragukan kebenaran sebuah penglihatan, bahkan ekstrimnya, ada pula anak-anak Tuhan yang sangat mendewakan tanda-tanda supranatural atau penglihatan. Lantas manakah yang benar? Berikut ulasan tentang “penglihatan”.
Secara umum, penglihatan dapat dibedakan menjadi 3, yaitu penglihatan yang bersifat nubuatan, penglihatan yang bersifat peringatan, dan penglihatan yang bersifat rhema (impresi).
Penglihatan yang bersifat nubuatan
Penglihatan jenis ini adalah penglihatan yang bersifat umum, untuk kepentingan orang banyak, dan berfungsi untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Biasanya penglihatan yang bersifat nubuatan ini dalam bentuk lambang-lambang atau hal-hal yang terlihat sangat jelas. Penglihatan yang bersifat nubuat ini pasti akan terjadi.
Ada banyak contoh penglihatan yang bersifat nubuatan dalam Alkitab. Misalnya nubuatan tentang Mesias atau penglihatan para nabi, seperti penglihatan Yohanes di pulau Patmos, penglihatan nabi Yehezkiel, dan masih banyak lainnya.
Penglihatan yang bersifat peringatan
Penglihatan jenis ini adalah penglihatan yang bersifat untuk memberikan peringatan atau rambu. Penglihatan ini berfungsi sebagai penuntun agar anak-anak Tuhan memilih untuk hidup di jalan-Nya yang benar. Penglihatan jenis ini sangat berkaitan dengan kehendak bebas manusia, sehingga penglihatan ini tidak mutlak terjadi. Artinya bisa saja terjadi, bisa juga tidak terjadi. Sebab apabila seorang yang mendapatkan peringatan segera sadar dan bertobat, atau sebaliknya, dia mengeraskan hati dan berusaha keras agar penglihatan tersebut tidak terjadi, penglihatan tersebut bisa saja tidak terjadi.
Sebagai contoh, seorang hamba Tuhan mendapatkan penglihatan dari Tuhan bahwa A tidak boleh menikah dengan B. Jika A menikah dengan B, maka mereka tidak bisa punya anak. Saat mereka memilih untuk mengeraskan hati dan tetap menikah, bisa saja mereka tidak dapat memiliki anak. Tetapi bisa saja mereka berusaha keras untuk mengingkari peringatan yang diberikan kepada mereka. Misalnya dengan kemajuan teknologi yang ada, mereka pada akhirnya dapat memiliki anak melalui program bayi tabung.
Apakah penglihatan ini dianggap salah jika tidak terjadi? Tentu saja tidak. Sebab penglihatan jenis ini hanya bersifat memperingatkan. Inilah perbedaan mendasar penglihatan jenis ini dengan penglihatan yang bersifat nubuat. Bahwa penglihatan yang bersifat nubuat mutlak terjadi atas kedaulatan Tuhan, sedang penglihatan yang bersifat peringatan tidak mutlak terjadi karena ada kaitannya dengan kehendak bebas manusia.
Penglihatan yang bersifat rhema (impresi)
Penglihatan jenis ini mirip dengan penglihatan yang bersifat peringatan, tetapi penglihatan ini biasanya lebih mengarah untuk hal yang bersifat pribadi. Terjadi atau tidaknya penglihatan ini adalah keputusan orang tersebut untuk mewujudkan rhema tersebut atau tidak.
Misal, seorang hamba Tuhan mendoakan seseorang dan mendapatkan penglihatan bahwa orang tersebut akan menjadi seorang hamba Tuhan dan dapat memimpin satu juta umat. Namun ketika hal itu tidak terjadi, maka bukan berarti penglihatan hamba Tuhan tersebut salah. Bisa saja karena orang yang didoakan itu ternyata tidak menerima panggilan tersebut dan memilih jalan lain untuk hidupnya. Sebab penglihatan jenis ini bukan sebuah penetapan, yang pasti akan terjadi tepat seperti yang ada dalam penglihatan. Tetapi semuanya bergantung dari pilihan dari orang mendapatkan rhema atau orang yang ada dalam penglihatan ini.
Percaya pada penglihatan-penglihatan dari hamba Tuhan adalah hal yang baik. Penglihatan-penglihatan tersebut dapat kita jadikan acuan untuk tetap mawas diri dan berjaga-jaga akan peringatan Tuhan, juga sebagai penuntun agar kita tetap di jalan-Nya yang benar. Tetapi janganlah kita ekstrim kanan atau kiri. Tidak baik terlalu mendewakan penglihatan tanpa mengkonfirmasi dengan Firman Tuhan. Tidak baik juga jika kita tidak percaya sama sekali pada peringatan-peringatan yang Tuhan berikan melalui penglihatan-penglihatan. Yang benar adalah kita percaya akan penglihatan yang telah terkonfirmasi sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan.
Tolak ukur kebenaran sebuah penglihatan bukan dari terjadi atau tidaknya penglihatan tersebut, tetapi dari sesuai atau tidaknya pengelihatan tersebut dengan kebenaran Firman Tuhan. Jangan sampai kita menjadi sesat! Karena tidak semua penglihatan berasal dari Tuhan, bisa saja itu bagian dari tipuan si jahat. Karena itu, baiklah kita menguji segala sesuatu yang kita dapatkan. Dengan mengetahui dan memahami jenis-jenis penglihatan, baiklah pengetahuan kita diperkaya agar jangan sampai kita menjadi “bodoh” rohani. Sebagai anak-anak Tuhan, kita harus memiliki pengertian dan pengetahuan yang benar akan Dia, supaya jangan kita dengan mudah disesatkan oleh iblis.
Arahkanlah perhatianmu kepada didikan,
dan telingamu kepada kata-kata pengetahuan.
Amsal 23:12







