Katakanlah kepada mereka: Demi Aku yang hidup, demikianlah firman Tuhan ALLAH, Aku tidak berkenan kepada kematian orang fasik, melainkan Aku berkenan kepada pertobatan orang fasik itu dari kelakuannya supaya ia hidup. Bertobatlah, bertobatlah dari hidupmu yang jahat itu! Mengapakah kamu akan mati, hai kaum Israel?
Yehezkiel 33:11

Anak-anak Tuhan pada hari-hari ini jarang sekali untuk mengatakan “Ini aku Tuhan, utuslah aku”. Mereka merasa sudah cukup mengenal Tuhan, merasa nyaman dengan keadaan mereka, tanpa tantangan untuk mengikut Tuhan. Tidak ada kerinduan bagi mereka untuk berurusan dengan panggilan dan rencana Tuhan karena mereka merasa hidup mereka baik-baik saja.

Kehendak Tuhan yang sempurna begitu menakutkan banyak anak-anak muda. Mereka tahu bahwa kehendak Tuhan yang sempurna itu adalah yang terbaik, namun banyaknya kecurigaan dan ketidakpercayaan anak-anak Tuhan kepada Bapanya menjadi penghalang untuk mengenal kehendak Tuhan yang sempurna.

Ketika kita berada dalam masalah dan seolah keadaan kita sangat buruk, kita akan berseru pada Tuhan dan meminta pertolonganNya. Namun, saat keadaan kita sedang baik-baik saja, kita cenderung untuk tidak peduli dan berpaling dariNya. Pada dasarnya, Tuhan berfirman pada semua orang untuk membawa anak-anakNya pada keselamatan yang sejati, melalui kebenaran itu sendiri. Sebenarnya, hanya itulah kebutuhan dasar dari roh setiap manusia. Namun, tidak banyak orang yang menyadari betapa pentingnya hal itu bagi hidup kita. Pemikiran yang terlalu pendek inilah menjadikan kita hidup hanya untuk diri sendiri.

Tuhan sangat rindu untuk memberikan anugerah keselamatanNya bagi semua orang tanpa terkecuali. Namun, adakah yang peduli akan kerinduan hatiNya? Di Alkitab, sejak kitab Kejadian hingga kitab Wahyu hanya ada satu kesimpulan yang jelas, yaitu Tuhan rindu supaya setiap manusia dapat diselamatkan, namun apakah kita bersedia menerimanya. Saat kita berkata bahwa kita mau menerima anugerah keselamatan itu, seringkali kita tidak benar-benar menerima anugerah keselamatan itu. Kita memilih-milih kehendak Tuhan, apakah selaras dengan hati kita. Kita tidak rela untuk membayar harganya karena merasa rugi.

Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
Filipi 3:7

Jika kita benar-benar menerima keselamatan yang sejati, seharusnya kita setuju dengan pernyataan Paulus dalam Filipi, tidak ada perasaan rugi karena mengikut Kristus. Apapun yang menjadi kehendak Tuhan, sudah seharusnya kita melakukannya. Apapun yang menjadi kerinduanNya, menjadi kerinduan kita juga, yaitu kerinduan akan jiwa-jiwa, seperti Nabi Yesaya yang memahami kerinduan hati Tuhan.

Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!”
Yesaya 6:8

Tuhan melakukan pengutusan tidak sembarangan. Ada tujuan-tujuan yang berbeda dalam pengutusan yang dilakukan Tuhan, misalnya :

  1. Kepada orang yang tidak tahu bahwa dirinya berdosa.

Anak-anak Tuhan seringkali merasa sudah hidup dalam kebenaran, mereka tidak sadar bahwa mereka berdosa. Tuhan akan mengutus anak-anakNya untuk menyatakan kebenaran kepada mereka yang tidak sadar bahwa mereka berdosa.

  1. Kepada orang yang dengan jelas menolak hidup dalam kehendak Tuhan.

Anugerah keselamatan yang Tuhan tawarkan diberikan dengan gratis. Tuhan rindu agar orang-orang yang berdosa bertobat dengan sungguh. Meskipun dengan gratis diberikan kepada anak-anakNya, masih banyak manusia yang menolak untuk hidup dalam kehendak Tuhan.

  1. Kepada orang yang sadar akan dosanya tetapi tidak tahu harus berbuat apa agar diampuni dosanya.

Banyak orang menyadari bahwa mereka membutuhkan pengampunan dosa, namun tidak tahu bagaimana cara untuk menerima pengampunan tersebut. Mereka berpikir bahwa perbuatan baik yang mereka lakukan dapat menghapuskan dosa, tetapi itu adalah sebuah kesalahan. Sama seperti sebuah noda titik di kertas putih, kertas putih itu tidak lagi menjadi bersih sempurna. Atau ketika sepuluh butir telur yang dipecahkan satu demi satu ke dalam baskom berisi adonan kue, jika telur terakhir saja ternyata busuk, maka sebaik apapun isi baskom tersebut, kue itu tidak layak lagi untuk dikonsumsi.

Sangat menyedihkan hati Tuhan, ketika ketakutan dan keengganan manusia menjadi alasan utama untuk menolak kehendak Tuhan dan merasa tidak layak untuk memberitakan kabar anugerah keselamatan. Tuhan menginginkan pertobatan orang fasik, bukan kematiannya. Namun, bagaimana mereka bisa bertobat dan menerima anugerah keselamatan yang Tuhan berikan kalau tidak ada yang menyampaikan kepada mereka. Mari kita miliki hati akan jiwa-jiwa dan berkata “Ini aku utuslah aku”.