Cinta itu Kamu, Aku, dan
Dia, yang menyelamatkan kita
Cinta merupakan sebuah kata kerja.
Perasaan cinta ialah buah dari cinta sebagai kata kerja.
Cinta ialah sebuah aktivitas pengorbanan, mendengar,
berempati, mengapresiasi, serta peneguhan di kala duka.
(Covey, 2007)
Dalam kehidupan yang fana ini, seringkali kita haus akan yang namanya cinta. Baik cinta dari orang tua, cinta dari teman, cinta dari pasangan, maupun cinta dari sumber-sumber lainnya. Selama ini, kita hidup untuk terus mencari dan mencari, sembari melupakan bahwa ada cinta yang lebih besar dari semua itu. Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yohanes 15:13). Dan kita telah mengetahui, Tuhan pun telah mengorbankan diri-Nya sebagai domba yang kudus untuk kita semua, sebagai orang-orang yang dikasihi-Nya.
Semakin besar suatu harga dan pengorbanan atas sesuatu, maka semakin bernilai dan besar kasih seseorang terhadap suatu hal tersebut
(Evie Mehita)
Kita lebih mudah untuk berdecak dan berkomentar, serta bergosip tentang milik orang lain daripada milik kita sendiri. Mengapa? Karena apa yang menjadi milik kita itu lebih berharga dari apa pun yang ada di dunia ini. Kita tidak mungkin sampai hati untuk menjelek-jelekkan apa yang menjadi milik pribadi masing-masing. Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk merasa memiliki Tuhan, sebab Dia telah terlebih dahulu mengakui kita sebagai milik-Nya. Dalam 1 Korintus 6:20, Paulus menyatakan bahwa kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar oleh Bapa kita di Sorga. Hal ini mengimplikasikan bahwa Iblis sudah tidak memiliki kuasa atas kita. Iblis tidak berhak untuk menyita kita dalam bentuk apa pun, entah itu tubuh, jiwa, dan roh kita.
Sebagai hak dan kepunyaan Allah, kita tidak dapat mengambil keputusan sendiri. Seperti ilustrasi sepasang suami istri, tubuh seorang ialah milik yang lain. Seorang suami tidak akan terima jika istrinya dipeluk lelaki lain. Seorang suami juga pasti akan marah ketika sang istri mengambil keputusan sendiri untuk berjalan-jalan ke luar negeri tanpa seizin sang suami. Tuhan pun tidak akan terima jikalau kita melakukan perbuatan zinah maupun mengambil keputusan tanpa seizin-Nya. Tuhan menyukai setiap momen ketika kita seperti anak kecil yang berlari kesana kemari dan menanyakan apa yang menjadi kerinduan-Nya.
Lalu, apa saja yang perlu kita lakukan untuk mengasihi Tuhan seperti Ia mengasihi kita? Ada dua hal yang dapat kita terapkan untuk menunjukkan kasih kita kepada-Nya.
- Memuliakan Tuhan dengan tubuhmu
Apakah kamu tidak tahu bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus, yang ada di dalam kamu, yang kamu terima dari Allah, dan bahwa dirimu bukanlah milikmu sendiri?
1 Korintus 6:19
Tubuh kita ialah bait Roh Kudus dan kita bukan milik sendiri tetapi kepunyaan Allah. Tuhan tidak hanya tinggal dalam roh dan jiwa, tetapi Ia juga berkuasa atas tubuh kita. Dengan menjaga kehormatan tubuh kita, maka kita pun sedang menjaga dan menghargai kehormatan Tuhan.
- Tidak lagi menjadi hamba manusia, namun menjadi hamba kebenaran
Kamu telah ditebus dengan harga lunas, karena itu janganlah kamu menjadi budak manusia.
1 Korintus 7:23
Sekali lagi, Paulus menyampaikan kebenaran bahwa kita telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Maka dari itu, kita tidak boleh menjadi hamba manusia. Hamba manusia berarti menjadi budak dari segala pemikiran kedagingan manusia, dari jiwani manusia. Sebagai orang yang telah diselamatkan oleh Allah, hendaknya kita hidup merdeka dari segala dosa dan perhambaan daging kita menjadi hamba kebenaran. Kita perlu menyerahkan anggota-anggota tubuh kita, menjadi hamba kebenaran yang membawa kita kepada pengudusan yang sejati.
Demikian dalam perjalanan hidup ini, kita akan dihadapkan oleh berbagai pencobaan. Tuhan rindu agar kita dapat memiliki cara hidup yang berkemenangan dan bebas dari segala dosa. Terlepas dari bagaimana sehancur dan serusak apa pun latar belakang kita, kita sudah diklaim sebagai kepunyaan-Nya, milik-Nya yang dikasihi dan dicintai dengan segenap hati. Kita adalah segala-galanya bagi Dia. Oleh sebab itu, mari kita menjadi hamba-hamba kebenaran yang membawa diri kepada pengudusan. Sehingga sebagai kesudahannya,Ia akan membawa kita ke dalam hidup yang kekal.







