Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah : Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.
Markus 12: 30-31
Ini adalah hukum terutama yang Tuhan ajarkan pada setiap kita dan semua orang Kristen pasti pernah mendengar hukum ini. Hukum ini memang terlihat sederhana tapi sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam. Hal ini terbukti dari banyaknya anak-anak Tuhan yang gagal untuk menghidupi hukum ini.
Ada 3 Hal penting dalam pembangunan sebuah rumah :
- Struktur Dasar
- Pilar Penyangga
- Wajah Bangunan
Sebuah bangunan yang tinggi, misalnya gedung yang memiliki 20 lantai, pasti memiliki struktur dasar yang dalam, fondasinya jauh di dalam tanah dan memiliki tiang2 yang kuat maka bangunan itu akan dapat berdiri tinggi dan kokoh. Sedangkan bangunan yang pendek, misalnya rumah 2 lantai, tidak memiliki struktur dasar sedalam bangunan 20 lantai. Namun, seringkali kita melupakan kedua hal tersebut dan hanya berfokus pada wajah bangunan saja. Mau menjadi seperti apakah kita? Rumah dengan 2 lantai yang dapat menampung kurang dari 10 orang, atau sebuah hotel dengan tinggi 20 lantai yang dapat menampung ratusan orang? Kalau kita ingin menjadi bangunan yang tinggi, besar dan kokoh serta menampung banyak orang, ktia harus memiliki struktur dasar yang dalam.
Kita cenderung tertarik pada apa yang terlihat dan mengabaikan apa yang tidak terlihat. Padahal yang tidak terlihat jauh lebih penting dibandingkan yang terlihat.
Struktur dasar atau fondasi itu berbicara hubungan dan kedekatan kita dengan Tuhan. Bangunan yang tinggi akan mendapat dorongan angin lebih kencang dibandingkan bangunan yang pendek. Jika struktur dasar atau fondasi bangunan itu tidak dalam, ia akan roboh. Demikian juga kita harus memiliki hubungan kita kuat dan dalam bersama Tuhan, bangunan setinggi apapun yang dibangun diatas hidup kita akan memiliki kekuatan dan kokoh meskipun angin meniup kita begitu kencang.
Namun sayangnya, banyak orang mengabaikan hal ini dan hanya berfokus pada hal-hal lahiriah. Orang-orang yang mengabaikan kedekatan dengan Tuhan tidak akan pernah memiliki bangunan yang tinggi dalam hidupnya karena tidak memiliki dasar yang kuat. Mungkin nampaknya saja tinggi namun itu hanya sesaat, karena jika adanya goncangan, masalah, perselisihan, kecewa, dan lain sebagainya, bangunan tersebut akan roboh seketika. Itulah kenapa ada orang- orang yang tampaknya hebat dalam pelayanan, penuh karunia, namun tiba-tiba jatuh dan undur dari Tuhan karena ia membangun tanpa dasar yang kokoh.
Pilar penyangga atau tiang bangunan berbicara waktu–waktu yang kita habiskan bersama keluarga, teman – teman pelayanan, komunitas orang percaya. Pilar–pilar penyangga inilah yang membentuk kerangka bagi dinding dan lantai bangunan, bayangkan saja jika pilar–pilar ini tidak berada pada tempatnya, bangunan kita akan memiliki bidang lantai dan bentuk ruangan yang tidak beraturan. Saya percaya dengan adanya kasih dalam keluarga, pelayanan, pertemanan, dan hubungan kita itu akan memulihkan setiap luka, kekecewaan, perselisihan yang ada.
Struktur atas atau wajah bangunan merupakan gambaran dari pencapaian–pencapaian diri kita yang terlihat dalam kehidupan dan pelayanan. Kita membangunnya dengan keahlian, talenta, bekerja sebaik–baiknya seperti untuk Tuhan, dalam ketaatan dan kesetiaan. Namun struktur atas ini bermanfaat hanya apabila ada struktur bawah yang kokoh dan tiang penyangga yang di bangun pada tempatnya.
Kekuatan dan keindahan sebuah bangunan terletak pada dasar dan pilar penyangga yang ada di bawahnya.
Kehidupan dalam penyembahan dan takut akan Tuhan ditopang oleh kerendahan hati, hikmat dan keteguhan hati merupakan sebuah fondasi yang kuat dan dapat bertahan menghadapi tekanan dan goncangan yang hebat.
Saat Saul menjadi raja, ia hanya berfokus pada wajah bangunan. Itu terlihat saat Saul tidak tahan menghadapi tekanan dari orang filistin saat megejar orang Israel dalam keadaan terjepit dan berserak–serak meninggalkannya. Karena Itu dengan bodohnya ia mempersembahkan korban bakaran, sedangkan yang memiliki hak untuk mempersembahkan korban bakaran adalah Samuel sebagai seorang imam. Ketidaktaatannya Tuhan mengoyakan kedudukannya sebagai seorang raja dan diangkatnyalah Daud untuk menggantikan Saul.
Saul hanya mementingkan kedudukannya sebagai raja dan pencapaian–pencapaian kemenangan bangsa Israel melawan musuh, namun Ia mengabaikan ketaatan terhadap firman Tuhan. Saul juga mengabaikan Samuel yang berkedudukan sebagai imam yang memiliki hak untuk mempersembahkan korban. Saul mencoba membangun bangunan yang tinggi, namun tidak disertai struktur dasar dan tiang penyangga yang kuat, sehingga dengan mudahnya bangunan itu roboh saat adanya goncangan.
Daud adalah seorang penggembala domba, bahkan Ia tidak masuk hitungan untuk menjadi seorang prajurit seperti kakak–kakaknya. Namun Tuhan memilih Daud menjadi raja bagi bangsa Israel, meskipun yang terlihat, mungkin Daud terlihat jauh dibawah Saul dari sisi perawakannya sebagai seorang raja. Saul terlihat gagah, sedangkan Daud kecil serta kemerah–merahan wajahnya. Tetapi Daud memiliki hati yang benar dihadapan Tuhan, itulah modal utama Daud diangkat menjadi raja.
Daud tidak sibuk membangun apa yang tampak diluar, namun Ia memiliki fondasi dan pilar penyangga yang kuat dalam hidupnya.
Saat Ia maju menghadapi Goliat. Ia tidak terima Goliat mengolok–olok orang Israel dan kemudian Daud maju berperang bersenjatakan Nama Tuhan semesta Alam (Kisah ini dapat dibaca pada 1 Samuel 17). Ini menunjukan kedekatannya dengan Tuhan, dan Daud tidak mempermasalahkan saat dirinya hanya sebagai seorang gembala sedangkan saudara–saudaranya adalah prajurit. Ini berarti bahwa kasih yang dimiliki Daud untuk saudara-saudaranya melebihi pencapaian dalam hidupnya. Ketika Daud memperhatikan struktur dasar dalam kehidupannya, Tuhan mengangkat dan mempercayakan Ia menjadi seorang raja bagi bangsa Israel. Ketika kita memperhatikan kedalaman hidup kita, Allah akan memperhatikan keluasan pekerjaan dan pelayanan kita.
Mari kita bangun sebuah dasar yang kokoh dalam kehidupan!!
Salam kebangunan Tuhan Yesus Memberkati.







