“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji”. (2 Korintus 13:5)

Tujuan dari sebuah ujian adalah supaya menguji kita apakah kita sudah memenuhi syarat-syarat tertentu untuk naik ke level atau kelas selanjutnya. Firman Tuhan katakan bahwa kita harus menguji diri sendiri. Lalu apa yang harus kita uji dan selidiki?

Percaya kepada Yesus

Tuhan akan menguji kita baik dalam keadaan buruk maupun baik, miskin atau kaya, suka atau duka, dalam kondisi apapun Tuhan akan menguji hati kita. Dalam kondisi apapun jangan sampai kita menyangkal Tuhan. Dalam masa-masa penganiayaan ini akan terbukti apakah kita tahan uji percaya pada Yesus.

Iman untuk tetap berjalan dalam kehendak Tuhan.

Tuhan akan menguji setiap kita, saat kita harus memilih kehendak Bapa atau kehendak diri sendiri. Tuhan memberi kehendak bebas pada manusia, bahkan BAPA tidak memaksa manusia untuk percaya pada Yesus. Dalam memilih kehendak Tuhan ada yang baik, berkenan dan sempurna. Berapa banyak kita punya mental hanya untuk mendapat yang baik, tidak punya mental untuk mendapat kehendak Bapa yang sempurna?

Firman Tuhan berkata bahwa kita seperti domba di tengah-tengah serigala, hendaknya kita cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Dalam keseharian kita, kita harus menggunakan prinsip ini saudara, apalagi dalam dunia bisnis. Ingat disini yang terpenting adalah cerdik dan bukan licik. Salah satu ciri kelicikan adalah bersifat mementingkan diri sendiri dan merugikan orang lain dan Tuhan tidak suka akan hal ini.

Iman untuk memperjuangkan dan mempertahankan sesuatu yang Ilahi.

Daya juang ini sangat penting dalam hidup kita. Ada beberapa sifat manusia yang saya temukan pada anak yang saya ajarkan, pertama pasrah menerima apa adanya pokoknya lulus atau selesai. Kedua, yang sudah baik, tapi tidak puas dengan hasil usahanya (tidak mau mengakui bahwa dia bisa, ini ada kesombongan yang terselubung), dan yang ketiga, punya semangat yang tinggi ingin mendapat yang perfect (hasil yang paling baik). Hal ini harus kita luruskan, bahwa kita memang harus berjuang dan berusaha semaksimal mungkin, dengan berdoa kepada Tuhan, hasilnya yang barulah kita serahkan kepada Tuhan dan apapun hasilnya jangan pernah menyerah dan berjuang.

Iman untuk melepaskan sesuatu yang baik demi mendapatkan sesuatu yang terbaik.

Dalam Lukas 14:25 “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku…” Ini berarti melepaskan setiap ikatan-ikatan dengan dunia, ikatan dengan orangtua, saudara, sahabat, bahkan harta yang Tuhan percayakan pada kita. Abraham melewati ujian iman ini, saat anaknya Ishak dipersembahkan untuk Tuhan.

Selain iman, kita akan melewati ujian hati. Dan yang terpenting adalah menjaga kemurnian hati, hati merupakan pusat dari kehidupan (kehendak dan tindakan kita).

Amsal 4:23 “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Dalam versi lain “Jagalah hatimu melebihi harta apapun, karena itulah sumber dari segala kehidupan”. Tuhan akan menguji kemurnian hati kita, baik dalam motivasi hati mengikuti Tuhan atau dalam melayaniNya

Galatia 6:4 : ”Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain”. Ujilah diri kita sendiri, tidak perlu kita melihat orang lain atau menghakimi dan menilai orang lain tapi Firman Tuhan katakan ujilah pekerjaan kita sendiri.

2 Korintus 10:17-18:“Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan. Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan”. Ini yang harus kita kejar yaitu kita dipuji Tuhan. AMIN.

Sumber : grahacmc.org