Di dunia ini, ada tiga macam orang. Pemahaman kita tentang hal ini akan membantu dalam mengelola hubungan, baik dalam pertemanan, di kantor, maupun masyarakat.
BIJAK
Mudah-mudahan kita semua menjadi orang bijak. Orang bijak melihat masalah dan menghindarinya. Contohnya, melihat ada potensi terkena COVID-19, orang bijak menghindarinya dengan berbagai upaya. Mudah mengajari orang bijak, karena ia memang berusaha mencari tahu dan memahami. Baginya, mencari kebenaran itu penting, kontras dengan orang bebal yang membelokkan kebenaran supaya ia tidak perlu menyesuaikan diri dan berubah.
BODOH
Kalau orang bijak belajar sebelum terkena masalah, orang bodoh belajar karena terpaksa. Terpaksa mengulang ujian karena tidak belajar, barulah ia sadar dan belajar supaya lulus. Terpaksa terkena COVID-19 karena ceroboh tidak pakai masker, baru ia pakai masker. Orang bodoh adalah orang yang perlu diberitahu berkali-kali dan kadang dihukum, baru ia berubah. Karena itu, para orangtua perlu mendisiplinkan anak-anaknya sejak kecil, pendisiplinan mengusir kebodohan.
BEBAL
Orang bebal adalah orang yang menganggap dirinya paling benar dan memutuskan untuk tidak mau berubah. Walaupun fakta bicara lain, dan walaupun sudah menerima hukuman, tetap saja dia menolak berubah. Punya karyawan seperti ini agak berat, tidak bisa dibina, tidak mau diajak maju, dan selalu bikin masalah dengan rekan kerja, akhirnya terpaksa dilepas.
Dalam situasi pandemi, orang-orang bebal adalah orang-orang yang menolak melihat kenyataan bahwa RS sudah penuh, ngotot untuk kumpul-kumpul, bahkan menyebarkan hoax yang membahayakan orang lain. Kalau Anda bertemu orang bebal, jauhi saja, karena percuma membuang energi untuk mengubahnya. Mending kita ambil waktu untuk belajar dari orang bijak dan menolong orang bodoh untuk lebih maju.
KERENDAHATIAN MENDAHULUI KEBIJAKSANAAN.
Sumber : Esther Diyanti




