Penganiyayaan terhadap orang-orang Kristen yang dilakukan oleh pasukan militer Myanmar masih terus terjadi di Myanmar. Setidaknya 47 gereja dan belasan bangunan yang terkait dihancurkan sejak terjadinya kudeta oleh pasukan militer Myanmar Februari tahun lalu. Sebanyak 35 gereja dan 15 bangunan yang terasosiasi dengan gereja dihacurkan di provinsi Chin, sedangkan 12 gereja di provinsi Kayah yang sebelumnya dikenal sebagai Karenni. Kedua provinsi ini mayoritas penduduknya beragama Kristen.

Myanmar yang juga termasuk dalam bagian Asia Tenggara, adalah negara dengan perang saudara terlama. Perang saudara ini dimulai sejak tahun 1948. Konflik ini bermula dari kelompok militer yang dikenal bernama Tatmadaw, dengan kelompok etnis minoritas yang mendukung demokrasi.

Sejak kudeta militer Februari tahun lalu, junta militer Myanmar telah menembakkan artilery dan serangan udara di daerah sipil di provinsi Chin dan Kayah, sebab penduduk kedua provinsi ini melakukan perlawanan kuat. Tempat-tempat keagamaan, baik agama Kristen maupun agama Buddha, dijadikan target, sebab dijadikan tempat perlindungan bagi warga sipil setiap kali terjadi bentrokan.

Baru-baru ini, pasukan militerĀ  yang berbasis di Hakha akhir bulan lalu merusak dan menjarah Gereja Memorial Sang Fen di Desa Zokhua di ibukota provinsi Chin, Hakha. Bahkan saat malam natal tahun lalu, pasukan militer membakar hidup-hidup sekitar 35 orang pengungsi, termasuk para lansia, perempuan dan anak-anak, di provinsi Kayah.

Karenni National Defence Force, salah satu yang terbesar dari beberapa militer yang melawan Junta, terkejut ketika mendapati tubuh korban setelah pembantaian tersebut karena memiliki berbagai ukuran, termasuk anak-anak, wanita dan lansia.

“Saya pergi untuk melihat di pagi hari. Saya melihat mayat-mayat yang telah terbakar, juga pakaian dari anak-anak dan wanita berceceran,” kata seorang penduduk.

“Mereka menyerang gereja untuk menekan iman orang-orang Kristen. Saya mengutuk niat buruk mereka,” kata seorang pemimpin gereja.

Ratusan ribu warga sipil yang mayoritas beragama Kristen, telah mengungsi. Kehadiran militer membuat warga sipil gelisah. Militer telah merusak tempat-tempat ibadah dan rumah warga. Tidak hanya itu, mereka memperkosa, bahkan termasuk anak-anak perempuan. Mereka juga menculik warga sipil untuk dijadikan tenaga kerja paksa dan menembak mati warga sipil.

Kiranya kejadian ini dapat mengingatkan kita untuk bersyukur bahwa kita dapat tinggal di Indonesia, yang mana kita masih bisa untuk beribadah dengan damai. Mari kita doakan saudara-saudari kita di Myanmar agar mereka juga beroleh kedamaian dan kekuatan dari Tuhan dan agar iman mereka semakin diteguhkan menghadapi hari-hari yang sulit.

 

Sumber : christianpost.com