Musa dan Harun adalah salah satu contoh pemimpin dalam Alkitab yang berkenan di mata Tuhan. Mereka memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir menuju ke tanah perjanjian. Akan tetapi, Musa dan Harun pada akhirnya tidak diperkenankan untuk masuk ke dalam tanah Kanaan. Mengapa demikian?
TUHAN berfirman kepada Musa: “Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.” Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya. Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum. Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.” Itulah mata air Meriba, tempat orang Israel bertengkar dengan TUHAN dan Ia menunjukkan kekudusan-Nya di antara mereka.
(Bilangan 20:7-13)
Kisah di atas menjelaskan mengapa Musa dan Harun tidak dapat masuk ke tanah Kanaan. Pada waktu itu bangsa Israel mengeluh dan marah kepada Musa dan Harun karena kekeringan di padang gurun. Tuhan memerintahkan mereka berdua untuk berkata pada gunung batu supaya mengeluarkan air. Tetapi karena emosi mereka terhadap bangsa Israel yang marah, mereka mengambil sebuah tindakan yang fatal. Mereka memukulkan tongkat Musa pada batu itu sebanyak 2 kali, di mana itu bukan perintah Tuhan kepada mereka; mereka mengambil tindakan ceroboh karena emosi sesaat. Karena tindakan ceroboh itulah, Tuhan berkata pada Musa, “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.”
Itu adalah salah satu contoh bagaimana emosi sesaat yang dapat berdampak sangat besar. Seringkali hidup manusia dikendalikan oleh emosi. Lebih gawatnya lagi, ketika emosi yang mengendalikannya adalah emosi yang sesaat.
Gambar diri yang rusak adalah salah satu penyebab kita sering dikendalikan oleh emosi seseorang.
Gambar diri membuat mereka merasa tidak diterima, merasa tidak dicintai. Sehingga banyak orang yang akhirnya memaksakan kehendaknya untuk dicintai seperti yang dia mau, seperti yang dia pikir. Ketika orang tidak melakukan seperti yang dia mau, maka dia akan mudah sekali kecewa, marah, sedih dan terluka. Inilah yang disebut emosi mengendalikan hidup.
Ada banyak anak Tuhan yang akhirnya menjadi batu sandungan bagi orang lain karena hidupnya dikendalikan oleh emosi. Karena gambar dirinya yang rusak, dia menuntut orang lain menjadi seperti yang dia mau, dan pada akhirnya hidupnya hanya melukai orang lain.
Ketika kita mengharapkan sesuatu dan ternyata Tuhan memilih orang lain, bagaimana respon hati kita? Jangan kita menjadi marah dan emosi, tapi belajar untuk introspeksi diri. Apakah kita sudah memiliki motivasi yang benar dalam mengharapkan sesuatu itu? Apakah kita mengharapkan hal itu untuk kemuliaan kita sendiri atau kemuliaan Tuhan?
Belajar introspeksi, belajar menyelidiki. Karena jangan sampai kita mengambil wewenang Tuhan hanya karena emosi sesaat kita. Seperti Musa dan Harun, yang mengambil wewenang Tuhan untuk menyatakan mujizatnya kepada bangsa Israel. Hingga akhirnya Tuhan tidak lagi berkenan atas mereka.
Kita harus belajar meredam emosi dan miliki gambar diri yang benar.
Untuk memiliki gambar diri yang benar adalah sebuah proses, proses untuk dilahirkan kembali. Proses pembentukan karakter yang benar di dalam Tuhan akan mendewasakan setiap kita. Seorang yang dewasa adalah seorang yang mampu mengendalikan perasaan dan emosinya dengan baik. Oleh karena itu, karakter kita perlu diubahkan semakin lama semakin serupa dengan Kristus. Menjadi pribadi yang bukan hanya “meminta”, tetapi pribadi yang “memberi”. Menjadi pribadi yang bukan hanya maunya “didengarkan”, tapi pribadi yang mau “mendengarkan” orang lain. Sebab di mata Tuhan, pelayanan yang terbaik adalah mendengarkan.
Seorang yang dewasa adalah seorang yang mampu mengendalikan perasaan dan emosinya dengan baik.
Kunci untuk masuk dalam tanah perjanjian bukan hanya iman, tetapi juga kesabaran. Ketika kita mampu mengendalikan emosi kita dan menjadi sabar, saat itulah kita dapat memasuki tanah perjanjian Tuhan. Seandainya Musa dan Harun bersabar dan mengikuti semua perintah Tuhan, mungkin pada waktu itu mereka dapat masuk ke tanah yang dijanjikan oleh Tuhan. Karena itu kita perlu miliki kesabaran dalam menghadapi segala sesuatu, sehingga janji-janji Tuhan ada dalam tangan kita.
Baiklah kita mengerjakan kerinduan Tuhan tidak dengan emosi. Saat kita percaya dan hidup di dalam Dia, biarkan Yesus yang menguasai hidup kita sepenuhnya. Kendalikan emosi kita, miliki gambar diri yang benar, bersabar, dan pegang Yesus dalam segala perkara. Maka hidup kita akan menjadi terang bagi banyak orang.
percayasaja.com




