Perceraian bukanlah hal yang dibenarkan dalam iman Kristen. Namun, tetap saja ada orang-orang Kristen yang akhirnya memilih jalan perpisahan karena berbagai alasan, misalnya ketidakcocokkan dalam rumah tangga, adanya kekerasan dalam rumah tangga, adanya orang ketiga dan lain sebagainya.
Karena alasan-alasan seperti itu, banyak pasangan Kristen yang memilih untuk bercerai. Namun demikian, ada tiga silent killer yang tidak kamu sadari yang bisa membuat pernikahan berada di ujung tanduk. Silent killer ini harus segera disingkirkan agar pernikahan dapat berjalan lancar hingga maut memisahkan.
Sikap menghindari konflik
Tidak ada orang yang senang berada dalam konflik. Namun menghindari konflik tidak selalu benar. Sikap mendiamkan dan tidak ingin konfrontasi bisa menjadi bahaya dalam hubungan. Seperti pepatah “sedikit demi sedikit, lama-lama akan menjadi bukit,” perasaan tak senang dan tak nyaman yang terus menerus dipendam, hanya akan menabung amarah yang akan berkembang menjadi bom waktu yang bisa meledak kapan saja.
Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis. – Efesus 4:26-27
Jangan memendamnya berlarut-larut. Ketika memendamnya berlarut-larut, sebenarnya kita sedang memberi kesempatan pada iblis untuk menyerang pikiran-pikiran kita. Ketika ada yang tidak membuat kita tak nyaman, ada baiknya untuk mengutarakannya kepada pasangan agar menemukan solusi dan saling mengerti. Seperti Amsal 27:17 berkata, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”
Meremehkan perasaan orang lain
Validasi emosi adalah sebuah tindakan mengakui perasaan dan mengenali penyebab perasaan tersebut muncul. Invalidasi emosi berarti kebalikannya, seperti tidak mau mendengar dan mengerti perasaan pasangan atau meremehkan perasaan pasangan. Invalidasi emosi akan membuat seseorang merasa tidak terhubung, merasa tidak didengarkan, dan merasa dikucilkan. Hal ini akan membuat komunikasi di antara suami dan istri menjadi tidak baik dan membuat pernikahan hancur.
Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya. – Efesus 5:33
Ketika kasih menjadi dasar dari pernikahan, maka di dalamnya ada rasa menghargai dan menghormati. Suami yang mengasihi istrinya, pasti akan menghargai perasaan dan emosi istri dengan baik. Demikian juga istri yang menghargai suami, pasti akan menghormati posisi dan peran suami. Hal ini penting untuk membuat komunikasi antara suami dan istri berjalan dengan baik.
Luka dan trauma yang belum pulih
Setiap orang pasti memiliki luka dan trauma-trauma dari masa lalu. Saat kita mempercayakan hidup kita kepada Tuhan, Tuhan akan memulihkan luka-luka dan trauma kita. Namun demikian, ada luka-luka dan trauma-trauma masa lalu yang sulit untuk kita lepaskan dan akhirnya luka dan trauma itu terus membayangi diri kita. Orang-orang yang terluka cenderung turut melukai orang lain, sehingga hal ini akan berdampak pada pernikahan. Misalnya trauma karena pernah dikhianati, sehingga sangat sulit mempercayai pasangan yang bisa membuat pasangan tidak nyaman.
Sumber : berbagai sumber | percayasaja.com







