Ketika Daud telah menjadi raja, ia mendengar bahwa raja bani Amon telah digantikan oleh Hanun, anaknya. Raja Daud lalu mengirimkan utusan dengan maksud baik untuk menyampaikan dukacitanya, sebab Raja Daud bersahabat dengan sang ayah, Nahas. Selain itu, Raja Daud ingin menunjukkan persahabatan dengan bani Amon.
Namun sayang, Hanun tidak mengindahkan itikad baik Raja Daud dan malah mempermalukan orang-orang yang dikirim Daud. Hal itulah yang kemudian memunculkan perang antara Daud dengan bani Amon yang memperoleh bantuan dari orang Aram. Akhir dari cerita ini adalah kemenangan Daud yang telah membunuh empat puluh ribu pasukan berjalan kaki dan tujuh ratus ekor kuda kereta milik pasukan orang Aram. Sejak saat itu, orang Aram tidak berani lagi untuk memberikan bantuan kepada bani Amon.
Peperangan antara bangsa Israel dengan bani Amon dan orang Aram terjadi karena Hanun, pemimpin bani Amon, yang mempermalukan utusan-utusan Daud yang dikirim untuk menyampaikan salam dukacita. Namun, yang membuat Hanun berlaku demikian adalah perkataan pemuka-pemuka bani Amon, seperti yang tertulis pada 2 Samuel 10:3 :
berkatalah pemuka-pemuka bani Amon itu kepada Hanun, tuan mereka: “Apakah menurut anggapanmu Daud hendak menghormati ayahmu, karena ia telah mengutus kepadamu orang-orang yang menyampaikan pesan turut berdukacita? Bukankah dengan maksud untuk menyelidik kota ini, untuk mengintainya dan menghancurkannya maka Daud mengutus pegawai-pegawainya itu kepadamu?”
2 Samuel 10:3
Pemikiran negatif pemuka-pemuka bani Amon membawa bani Amon dalam peperangan dan membuat mereka dimusuhi oleh orang Aram. Seandainya pemuka bani Amon tidak memiliki pemikiran negatif demikian, tentu mereka akan bersekutu dengan Raja Daud, seperti ayahnya yang bersekutu dengan Raja Daud.
Pikiran negatif dapat membawa kita pada kecelakaan.
Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia.
2 Korintus 8:21
Alkitab meminta kita untuk memikirkan hal-hal yang baik, hal-hal yang positif, namun bukan berarti menjadi orang yang naif dengan tidak berhikmat dan tidak berjaga-jaga. Kita membutuhkan hubungan pribadi yang dekat dengan Tuhan agar kita dapat mengerti peringatan-peringatan Tuhan.
Tuhan pasti menjagai dan menyertai umatNya. Karena itu, jangan isi pikiran kita dengan pikiran-pikiran negatif yang membuat kita hidup dalam kecurigaan dan kekhawatiran berlebihan. Kritis itu baik, namun jangan sampai kita menolak kasih hanya karena pikiran-pikiran negatif kita yang tidak ada artinya.
Salam sejahtera, Tuhan Yesus memberkati.
Sumber : percayasaja.com | Ren







