Hari-hari ini, kata-kata mengenai tempat perhentian mengusik pikiran saya. Tempat perhentian berbicara mengenai sebuah tujuan atau posisi yang rindu dicapai setiap orang. Dalam hidup ini, kita banyak diajar bahwa tempat perhentian itu adalah sebuah prestasi atau kesuksesan. Contohnya adalah tempat perhentian seorang pelajar adalah nilai yang bagus atau naik kelas. Seorang mahasiswa adalah saat memakai topi wisuda. Seorang fresh graduate adalah saat mendapatkan pekerjaan. Seorang karyawan adalah saat gajian dan mendapat promosi. Seorang pengusaha adalah saat usahanya berkembang dan memiliki cabang di banyak tempat. Seorang single adalah saat mendapatkan dambaan hatinya. Seorang hamba Tuhan adalah saat banyaknya jemaat bertumbuh dalam penggembalaannya.

Apakah saudara juga mengalami seperti contoh-contoh di atas? Tempat perhentian adalah sesuatu yang kita rindukan, harapkan, dan perjuangkan untuk kita dapat mencapainya. Dalam Ibrani 4:10, ada sebuah tempat perhentian kekal yang telah Tuhan sediakan bagi kita. Namun, untuk masuk kesana kita harus berhenti dari segala “pekerjaan kita” mengejar tempat perhentian di bumi. Berhenti berarti kita tidak lagi berlari, kita memusatkan perhatian kita terhadap perkenanan Tuhan, bukan lagi terhadap pencapaian-pencapaian kita.

Sebab barang siapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaanya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya.
Ibrani 4:10

Apakah yang ingin kita capai di muka bumi ini? Sudah berapa banyak waktu dan tenaga telah kita habiskan untuk mengejar tempat perhentian kita di bumi? Hasrat dan tujuan yang tidak diserahkan kepada Tuhan hanya akan membuat kita lelah, karena hasrat manusia tidak pernah habis. Mari kita mencoba untuk berhenti dan mensyukuri semua pencapaian kita, kemudian menempatkan hati serta perasaan kita untuk mengejar tempat perhentian yang Allah sediakan. Tempat perhentian di bumi hanyalah sebuah alat untuk kemuliaan diri kita sendiri, bukan untuk kemuliaan Allah. Jangan habiskan waktu dan hidup kita hanya untuk pencapaian-pencapaian dunia. Marilah kita menjadikan tempat perhentian Allah sebagai tujuan hidup kita.

“Sukacita Allah tidak ditentukan dari pencapaian kita pada tempat perhentian yang ada di bumi, namun oleh keberhasilan kita hidup berkenan di hadapan-Nya setiap hari.”