Kita pasti pernah mendengar pertanyaan : apakah gelas tersebut terisi setengah penuh atau setengah kosong? Jika kita menjawab setengah penuh, maka kita digolongkan sebagai seorang yang optimis. Jika kita menjawab setengah kosong, kita akan digolongkan sebagai seorang yang pesimis.

Pesimis dan optimis adalah pembagian macam orang menurut cara pandang mereka terhadap dunia.

Seorang yang pesimis dianggap sebagai hal yang buruk, sedangkan optimis sebagai hal yang baik. Para motivator bahkan kerap kali berbicara bahwa kunci kebahagiaan adalah memiliki pemikiran yang positif. Berbagai buku motivasi juga cenderung mempromosikan pesan serupa, yaitu selalu berpikir positif.

Benarkah demikian?

Pesimis

Pesimis adalah orang yang melihat dunia ini buruk dan semakin lama semakin buruk. Ia tidak pernah memiliki pandangan yang baik dan hanya melihat keburukan pada manusia, dan selalu berjaga-jaga untuk menghadapi skenario terburuk. Saat ia melihat gelas yang terisi setengah, ia pesimis airnya akan segera habis.

Pandemi yang tidak menentu menekan dan mengkhawatirkan para pesimis. Ia komplain mengenai kebijakan pemerintah seperti PPKM, yang sebenarnya ada juga manfaatnya, misalnya ia bisa memiliki waktu lebih lama bersama keluarga. Ia komplain tentang vaksin yang baginya belum teruji, ia komplain tentang penyebaran COVID-19 dan segala hal yang bisa dikomplain.

Namun, seorang pesimis kebal terhadap kekecewaan karena mereka telah mempersiapkan diri untuk menghadapi yang terburuk.

Seorang yang pesimis sangat berhati-hati dan menganalisa segala sesuatu untuk menerima resiko sekecil mungkin.

Optimis

Orang yang optimis selalu berusaha melihat hal positif dari setiap keadaan atau kejadian. Ketika melihat gelas setenagh terisi, mereka berpikir nanti akan terisi lagi. Baginya, dunia adalah tempat yang baik dan kebaikan akan mengalahkan keburukan. Di masa pandemi, seorang yang optimis berkata pandemi akan segera berakhir dan hidup akan kembali normal seperti sebelum pandemi. Mereka tidak terlalu banyak komplain tentang keadaan.

Seorang optimis juga memiliki kelemahan. Terlalu berpikir positif membuat seseorang tidak berhati-hati dalam mengambil keputusan sehingga terkadang mencelakakan diri sendiri.

Namun, selain pesimis dan optimis, ada cara pandang lain, yaitu realis.

Realis adalah kombinasi keduanya, antara optimis dan pesimis. Mereka dapat menerima keadaan dengan memeprtimbangkan sisi negatif dan positif, meski tidak selalu berimbang antara keduanya.

Dalam menghadapi pandemi, para realis memahami bahwa pandemi mungkin tidak akan berakhir dalam waktu dekat, bahkan mungkin harus hidup berdampingan dengan pandemi, seperti kita hidup dengan penyakit-penyakit lainnya. Kemudian, ia memikirkan bagaimana menyesuaikan diri dengan keadaan dan berusaha mengambil manfaat dari situasi yang ada.

Ada sebuah riset yang meneliti para optimis, pesimis atau realis selama 18 tahun untuk melihat kesejahteraan jangka panjang mereka. Kesejahteraan tersebut diukur dari kepuasan hidup yang dilaporkan oleh masing-masing peserta, beserta tekanan psikologis. Para peneliti mengukur juga keuangan peserta dan kecenderungan mereka untuk memiliki lebih atau di bawah yang mereka perkirakan.

Ternyata hasil menunjukkan para realis adalah orang-orang yang paling sejahtera. Para pesimis merendahkan ekspektasi, orang optimis meninggikan ekspektasi, tetapi para realis menyeimbangkan keduanya. Para realis tidak dibebani ketakutan berlebihan, tetapi juga tidak kecewa karena harapan yang terlalu tinggi.

Sebuah kalimat yang pernah diucapkan oleh William Arthur Ward mengatakan “Orang pesimis komplain tentang angin, orang optimis yakin angin akan berubah arah, sedangkan orang realis akan menyesuaikan layar.”

 

Sumber : Esther Idayanti | Ren

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here