Mutasi virus COVID-19 yang ditemukan di Inggris beberapa waktu lalu yang kemudian diberi nama sebagai Corona B 117 telah ditemukan pada dua penderita di kabupaten Karawang, Jawa Barat.

Ridwan Kamil selaku Gubernur Provinsi Jawa Barat, mengatakan pemerintah provinsi tengah melakukan pelacakan (tracing) lebih lanjut untuk mengantisipasi penyebaran varian baru ini.

Menurut para ahli, mutasi virus ini 40%-70% lebih menular daripada varian virus COVID-19.

Menteri Kesehatan meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Sebelum masuk ke Indonesia, virus ini telah lebih dulu memasuki negara-negara di Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia, Filiphina, Singapura dan Thailand.

Tentunya penguatan 3M (Memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak). Deteksi dini dengan penguatan testing, peningkatan pelacakan kasus dan isolasi,” demikian pernyataan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Ditjen P2P Kemenkes Siti Nadia Tarmizi di Jakarta pada hari Rabu, 3 Maret 2021, seperti dikutip oleh JPNN.com. Ia juga mengatakan bahwa vaksin Sinovac yang digunakan pemerintah masih efektif untuk mencegah penularan virus corona B 117 tersebut.

Siti juga membenarkan kabar bahwa virus B 117 lebih cepat menyebar. Meski demikian, ia membantah virus ini memperparah penyakit atau menyebabkan kematian lebih banyak.

Virus ini lebih cepat menular, tetapi tidak menyebabkan bertambah parahnya penyakit,” tegasnya.

Ketua Satgas COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Zubairi Djoerban juga mengatakan penyataan serupa melalui akun media sosial Twitternya.

Mutan baru ini menyebabkan shedding virus lebih intens. Artinya produksi jumlah virusnya jauh lebih banyak di saluran napas. Jadi, istilah buat B.1.1.7 itu sebagai super spreader tidak tepat. Lebih tepat super shedder, karena virus itu bisa lebih menularkan ke banyak orang,” cuitnya.

Ia juga mencuitkan beberapa tulisan terkait varian virus Corona B 117. Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan umum dari masyarakat mengenai varian virus asal Inggris tersebut, salah satunya ia menjawab bahwa varian virus ini masih dapat dideteksi melalui tes PCR.

Apakah B.1.1.7 ini amat berbahaya karena lebih menular dan bisa membebani kapasitas rumah sakit? Iya. Bisa jadi jumlah kasus harian kita bertambah lagi dan rumah sakit juga terkena imbasnya—jika varian ini dominan. Tapi tidak benar akan menyebabkan kematian yang lebih banyak.”

Apa buktinya B.1.1.7 menular lebih cepat? Lihat Inggris. Beberapa bulan terakhir penularannya lebih cepat 70 persen. Tapi, ketika sudah banyak yang divaksinasi, maka angka kasus di sana menurun cukup signifikan. Bisa dicek.

Apakah kita harus khawatir terhadap B.1.1.7? Perlu, tapi jangan panik. Kesadaran masyarakat kita terhadap prokes makin tinggi. Saya optimistis dan tidak bermaksud menebar ketakutan; Saya menyampaikan ini agar kita waspada. Tidak bermaksud bikin takut.

Manusia memanglah makhluk yang mudah beradaptasi.

Saat ini manusia telah terbiasa untuk memakai masker meski tak nyaman. Namun menggunakan masker saja tidak cukup. Setiap orang juga harus meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan protokol kesehatan. Bukan hanya 3M lagi, tetapi 5M, yaitu : Menggunakan masker, Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan, dan Membatasi mobilisasi dan interaksi.

Selain itu, mari kita dukung program vaksinasi dari pemerintah agar segera terbentuk herd immunity atau kekebalan kelompok. Jangan khawatir dengan vaksin yang diberi pemerintah, karena telah teruji, bahkan digunakan oleh Presiden Indonesia, Joko Widodo.

 

Sumber : berbagai sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here