Sudah menonton film Minion, makhluk kuning kecil yang mencari tuan? Di film pertama Minion mengisahkan para Minion menjadikan dinosaurus menjadi tuan mereka. Mereka mengikuti dinosaurus tersebut, tetapi kemudian dinosaurus tersebut mati. Lalu mereka mengikut Firaun, dan ternyata Firaun juga mati. Kemudian mereka mengabdikan diri pada Napoleon, tetapi Napoleon juga mati karena mereka salah tembak. Mereka berkeliling untuk mencari tuan untuk diikuti.

Manusia juga sama seperti minion-minion tersebut, mencari seseorang atau sesuatu untuk disembah dan mengabdi kepadanya. Karena alasan ini juga, kita bisa yakin bahwa manusia tidak berasal dari kera yang berevolusi. Sebab kera atau binatang-binatang lainnya tidak memiliki roh yang mendorongnya mencari sesuatu untuk disembah. Kita tidak pernah melihat kera menyembah batu atau memberikan persembahan sesajen di pohon besar. Tetapi sejak dulu, manusia mencari sesuatu untuk disembah, mulai dari pohon, matahari, roh nenek moyang dan sebagainya. Manusia memiliki roh yang tidak ada di binatang dan inilah yang membuat manusia berharga, manusia tidak sama dengan binatang. Melalui rohnya, manusia mencari Tuhan.

Di zaman modern, manusia menyembah atau menjadi budak dari berbagai hal yang menyita hidup dan perhatiannya. Manusia seringkali lupa dengan “tuan” yang sebenarnya, yaitu Tuhan.

C.S. Lewis pernah berkata “Ada kerinduan dalam diriku yang tidak bisa dipuaskan oleh pengalaman apapun di dunia ini, penjelasan yang paling mungkin adalah aku diciptakan untuk dunia yang lain.”

Artinya, apapun yang ada di dunia ini tidak bisa dan tidak akan pernah bisa mengisi lubang kosong tersebut selain Tuhan. Dalam hati semua manusia, Tuhan seakan-akan membuat sebuah lubang yang hanya bisa diisi oleh kehadiranNya. Meski manusia mengisinya dengan uang, cinta atau seks untuk memenuhinya, tetap tidak akan pernah puas dan tetap akan merasa kesepian.

Ada yang berpikir kalau aku mengisinya dengan diriku, karirku, keluargaku, maka aku akan puas. Tetapi ternyata tidak, lubang itu tetap sama, karena memang hanya bisa diisi oleh penciptanya, yaitu Tuhan. Ketika ia berjumpa dengan Tuhan, Sang Pencipta, barulah manusia bisa tenang karena hidup menjadi bermakna dan memiliki tujuan. Setiap kita adalah makhluk surga, roh kita berasal dari surga, dan hanya hal-hal surgawilah yang benar-benar bisa memuaskan kita.

Sumber : Esther Idayanti