Jaman sekarang, internet sudah jadi kebutuhan sehari-hari. Bahkan ada celetukan berbicara “HP nggak perlu mahal-mahal, yang penting kuotanya“. Bener nggak nih?
Internet bukan lagi sesuatu yang “mahal”. Dari orang tua sampai anak-anak begitu familiar dengan internet. Kita sering melihat anak kecil yang bahkan belum bersekolah, membaca saja belum bisa, tapi sudah dibiasakan pakai smartphone atau gadget lainnya. Apalagi sekarang ini, banyak smartphone yang dijual dengan harga cukup murah, sehingga internet dan media sosial menjadi begitu akrab di masyarakat Indonesia. Secara garis besar, media sosial adalah media online yang memudahkan kita untuk berkomunikasi tanpa batas geografis, ruang dan waktu untuk berbagi sesuatu atau mengungkapkan pendapat secara online.
We Are Social Media menyatakan data pengguna internet di indonesia sejak Januari 2015 hingga Januari 2016 naik sebanyak 15%. Hal ini tentu saja berdampak pada naiknya pengguna social media menjadi 10% sejak tahun lalu. Sementara itu, berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), sampai sekarang ini pengguna internet di Indonesia telah mencapai 88,1 juta. 79 juta di antaranya adalah pengguna media sosial aktif. Jadi, Indonesia adalah salah satu negara yang aktif di media sosial. Sejak jaman friendster, LinkedIn, MySpace hingga ditahun 2004 lahirlah Facebook. Sampai saat ini, menurut data pada Januari 2015 ada sekitar 1,2 miliar pengguna aktif Facebook dan 50 juta diantaranya adalah dari Indonesia. Instagram, Path, Snapchat, Tumblr, Line, WhatsApp, BBM dan masih banyak lagi lainnya dengan berbagai macam fungsinya. Berbagi foto, video, atau bahkan sekedar menulis status atau mencari teman, tempat chating, mendapatkan informasi, hingga yang berbasis lokasi.
Perkembangan internet dan media sosial merupakan sebuah realita yang tidak dapat dihindari. Hampir setiap orang pernah menggunakan internet dan media sosial, entah hanya untuk keperluan chatting, sharing atau sekadar ikut tren-tren yang ada. Tapi kita perlu sadar bahwa tidak semua pengaruh dan tren itu baik. Kita perlu bijak dan selektif untuk memakainya. Media sosial dapat diibaratkan dengan 2 sisi mata uang, ada sisi positif dan negatif. Lewat media sosial, dengan mudahnya kita bisa dapatkan berita atau informasi, bisa sebagai ajang promosi atau berjualan bahkan menjadi tempat untuk berbagi kesaksian atau Firman Tuhan. Dengan internet dan media sosial juga membuat semua hal bisa didapatkan dengan sekali klik, termasuk konten-konten pornografi. Tidak ada lagi jarak ataupun pemisah di antaranya. Facebook misalnya, penggunanya bukan hanya kalangan dewasa tetapi juga anak-anak. Sudah begitu sering, Facebook feeds diramaikan dengan gambar-gambar yang tidak benar sampai video mesum. Entah itu benar memberi akses ke video tersebut atau hanyalah sebuah spam. Tapi ini jelas membuktikan bahwa kecanggihan teknologi memberi akses yang sangat luas kepada setiap kita untuk mendapatkan hal-hal porno tersebut.
Di dunia nyata kita bisa saja dikenal sebagai anak yang rohani dan taat, tapi dalam diri kita tersimpan rasa untuk melampiaskan segala kehidupan lama kita berupa “kesenangan” , “kegilaan”, bahkan “kegalauan” yang selama ini nggak pernah kita tunjukkan karena takut dengan opini lingkungan di sekitar kita. Hal ini membuat kehidupan nyata kita tidak sesuai dengan yang terjadi di dunia maya. Atau bisa juga sebaliknya, kehidupan dunia maya yang kita share dan upload begitu terlihat rohani, tapi sangat berbeda dengan kehidupan nyata. Seringkali asas kebebasanlah yang dipakai sebagai alasan untuk berekspresi sehingga kita tidak memikirkan dampak dari apa yang kita post.
Orang bilang kita boleh posting apa aja, “facebook facebook gue, instagram instagram gue! Suka-suka gue dong!”, tapi bukannya ada ayat yang bilang kalau kita tidak boleh menjadi serupa dengan dunia? Begitu miris kalau kita jadi batu sandungan karena gerak-gerik kita di media sosial. Internet dan media sosial juga bisa buat kita lupa waktu karena banyak hal yang menarik di dalamnya. Tanpa kita sadar, kita jadi terikat dan konsumtif terhadap media sosial. Well, ini bukan perang anti media sosial, tetapi bagaimana kita belajar menjadikan internet dan media sosial itu “hamba” bukan “tuan” atas hidup kita. Artinya, kita yang seharusnya bisa mengontrol pengaruh dari media sosial, bukan sebaliknya, kita ikut arus dan menjadi sama dengan dunia.
Tips dalam menggunakan media sosial :
- Tidak semua yang ditawarkan oleh teknologi itu baik.
“Kalau tidak mau jatuh, jangan berjalan di tempat yang licin.”
Kenali kelemahan kita. Kalau susah mengatur waktu, sehingga pekerjaan, doa dan saat teduh menjadi berantakan, sudah SEHARUSNYA kita kasih batasan waktu untuk bermain media sosial atau menerapkan puasa bermain medsos, misalkan seminggu tanpa Instagram, Path atau Facebook.
- Kebebasan berekspresi tetapi tetap bertanggung jawab, sopan dan berintegritas.
Perhatikan apa yang kita bagikan! Jangan sampai itu menjadi batu sandungan.
Lebih baik lagi, kalau media sosial bukan hanya sebagai ajang aktualisasi dan berekpresi tetapi juga dapat menjadi berkat.
- Menjadi sarana penginjilan
Mungkin kita malu, takut, minder kalau harus penginjilan ‘face to face’. Kenapa nggak, buat coba penginjilan lewat media sosial? Kita bisa bantu publikasi kegerakan gereja lokal atau renungan dari akun Kristen dengan cara share itu di media sosial kita.






