Di akhir zaman, masa-masa yang sukar akan terjadi, di mana banyak orang mengalami stres, kecemasan dan tekanan hidup yang luar biasa. Di satu sisi, kenyamanan hidup juga menjadi fokus manusia hari-hari ini, sehingga manusia berlomba-lomba mengejar apa yang dunia tawarkan.

Keduanya dapat menjauhkan kita dari Tuhan jika kita tidak punya yang namanya ketetapan hati.

Ketetapan hati adalah jangkar yang kuat di tengah arus dunia yang selalu ingin mengombang-ambingkan hidup kita. Ketetapan hati untuk mengasihi Tuhan, ketetapan hati untuk taat, dan ketetapan hati untuk hidup dalam kebenaran.

“Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.”
Daniel 1:8

Salah satu tokoh dalam Alkitab yang memiliki ketetapan hati adalah Daniel. Sebenarnya ia mendapat kesempatan untuk makan dan minum yang enak seperti yang disantap oleh raja. Tetapi Daniel tahu, bahwa makanan dan minuman itu sudah dipersembahkan kepada dewa-dewi Media Persia pada saat itu, sehingga Daniel memilih untuk tidak memakannya. Daniel menetapkan hati untuk tidak menajiskan dirinya dengan hal tersebut. Daniel lebih mengasihi Tuhan dibandingkan dengan segala kenyamanan yang ditawarkan kepadanya.

Bersama dengan Sadrakh, Mesakh dan Abednego, Daniel berani untuk diuji selama sepuluh hari ketika pegawai raja mempertanyakan. Daniel tidak takut dan percaya akan akan Tuhan. Setelah sepuluh hari, ternyata tubuh mereka lebih berisi dan lebih sehat dibandingkan mereka yang memakan santapan raja. Tuhan juga mengaruniakan hikmat kepada mereka sehingga mereka menjadi lebih bijaksana. Dengan ketetapan hati yang mereka miliki, nama mereka justru menjadi besar di Kerajaan Media Persia.

“Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.”
Daniel 6:11

Daniel tidak goyah untuk menyembah Tuhan seperti yang biasa ia lakukan, meskipun itulah yang membuatnya dijatuhi hukuman untuk dilemparkan ke dalam lubang singa. Ia berketetapan hati untuk tetap menyembah Tuhan di tengah situasi yang berusaha untuk menjatuhkan dia. Di tengah keadaan yang menghimpitnya, ia tetap datang kepada Tuhan, memuji dan menyembah Tuhan meskipun bertaruh nyawa. Ia percaya akan Tuhan dan tahu kemana ia harus menyerahkan hidupnya.

Apa yang dilakukannya ini justru membuat nama Tuhan ditinggikan. Bahkan raja Media Persia, Darius, yang tidak mengenal Tuhan mengakui kehebatan Tuhan. Tuhan mengangkat Daniel dan namanya semakin besar di kerajaan Media Persia itu.

Mari kita memiliki ketetapan hati dan keberanian untuk diuji. Di tengah keadaan yang tidak baik saat ini, mari kita datang semakin dekat kepada Tuhan. Mungkin saat-saat ini adalah “singa” untuk menguji hati dan hidup kita. Mari kita tetap senantiasa percaya dan berserah kepada Tuhan.

Nyatakan kuasa Tuhan dalam hidup kita. Mari senantiasa kita memuji dan menyembah Tuhan, memperkatakan iman kita dan menguatkan iman orang-orang di sekitar kita yang mungkin saat ini sedang lemah. Tuhan memberkati dan menyertai setiap kita. Tuhan Yesus memberkati.

 

Sumber : grahacmc.org | JFS