Cinta seharusnya merupakan sesuatu yang sederhana dan jelas, sebab cinta hanya berbicara tentang aku cinta dia atau tidak, namun kenyataannya cinta memiliki tempat nomor 1 sebagai hal yang sering membuat gelisah. Hal ini semua dikarenakan berbagai macam hal, contohnya adalah komunikasi.
Bagaimana caranya mengetahui dia memiliki perasaan pada kita?
Boleh seorang wanita menyatakan cinta lebih dahulu?
Berapa lama waktu yang diperlukan untuk menunggu kepastian perasaan seseorang?
Berbagai pertanyaan seputar cinta seringkali muncul dalam benak kita dan tidak jarang membuat kita uring-uringan sampai tidur pun tak nyaman.
Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.
Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia. Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan,
dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.
2 Petrus 1:3-7
Ayat di atas mengingatkan kita kembali mengenai makna dari “Kesetaraan Gender”. Namun akhir-akhir ini, gagasan “Kesetaraan Gender” justru menjadikan kaum wanita mengambil alih peranan para pria, sehingga akhirnya menyalahi kodrat ilahi yang sudah ditentukan. Bukan berarti “Kesetaraan Gender” ditujukan untuk hal tersebut, tetapi ini karena “kesetaraan gender” yang digagas oleh R.A. Kartini disalahartikan dan menjadi menyimpang dari maksud dan tujuan awal dari R.A. Kartini.
Pria diciptakan sebagai pemimpin, artinya seorang pria adalah seorang decision maker, yaitu sosok yang harus dapat mengambil keputusan serta mampu mencukupi kebutuhan. Sedangkan wanita diciptakan sebagai penolong yang sepadan bagi pria, bukan diciptakan untuk mengganti peranan pria.
TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”
Kejadian 2:18
Ada 4 tingkatan dalam berpasangan yang harus kita mengerti, yaitu :
- Pria yang Menjadi Pemimpin dan Wanita sebagai Penolong
Ini merupakan tingkatan yang sesuai dengan kerinduan hati Tuhan. Baik pria maupun wanita sama-sama mencintai Tuhan, memiliki visi dan misi serta saling mendukung didalam doa. Setiap pria atau wanita yang belum mempunyai karakter demikian, akan sangat berbahaya dalam pernikahan. Pernikahan yang dirindukan oleh Tuhan adalah pernikahan sekali seumur hidup.
- Pasangan/Pendamping
Ini adalah tingkatan yang lebih baik dari 2 tingkatan di bawah. Pada tingkatan ini, hubungan berpasangan pria dan wanita tidak menjadi batu sandungan, tetapi masing-masing pihak masih belum dapat memahami peranan masing-masing. Sehingga yang terjadi adalah masih adanya tekanan yang dilakukan pria atau wanita terhadap pasangannya
- Perongrong
Pada tingkatan ini, pria dan wanita memiliki peranan yang tertukar. Pria dan wanita sama-sama saling berusaha mengendalikan pasangannya dengan ancaman. Pria atau wanita yang berada pada tingkatan ini sama-sama tidak menunjukkan sikap mereka yang sebenarnya kepada pasangan.
- Penggoda
Di tingkatan terbawah ini, pria maupun wanita tertarik pada pasangannya karena kelebihan fisik yang dimiliki oleh pasangan. Pria atau wanita penggoda selalu menonjolkan kelebihan fisik yang dimiliki untuk menarik perhatian calon pasangannya.
Kesetaraan Gender bukanlah berarti mengambil peranan pasangan kita.
Bagaimana jika wanita yang ingin menyatakan perasaannya lebih dahulu pada pria? Ingat kembali kodrat ilahi wanita. Kita harus belajar dari sosok Ribka. Perempuan hanya dapat memberikan sinyal kepada pria, atau dengan menggunakan perantara. Prialah yang harus mengambil tindakan.
Para wanita, ingatlah! Wanita harus membuka diri namun tidak menjual diri. Bebas namun tetap terikat, terikat dengan Firman Tuhan tentunya. Dalam pergaulan, tetap ingat bahwa filternya adalah Firman Tuhan, bukan dari pemikiran pribadi. Jangan membatasi pergaulan, karena Tuhan dapat mempertemukan kamu dengan pasanganmu di manapun, seperti gereja, komunitas rohani, tempat kerja dan di tempat-tempat lainnya yang Tuhan ijinkan.
Pria juga tidak boleh berburu banyak wanita! Cinta bukanlah cinta jika terlalu banyak pilihan. Jangan menebarkan jala ke banyak wanita. Demikian juga para wanita tidak boleh mendekati banyak pria, karena Anda akan dipermalukan jika Anda menjual cinta kemana-mana. Pria atau wanita yang sedang mendekati lawan jenis harus belajar untuk setia mendekati hanya satu orang saja, mendoakan dan menyelesaikannya. Menyelesaikan artinya setia menunggu sampai kita tahu dengan yakin bahwa orang tersebut dari Tuhan atau tidak. Apakah orang yang didoakan tersebut juga memiliki perasaan yang sama atau tidak.
Hal terpenting yang harus kita yakini sebelum kita membangun sebuah hubungan adalah memastikan bahwa kita sudah beres dalam area godaan seksual. Pastikan motivasi kita berpasangan bukan untuk mengisi kesepian kita. Rasa kesepian yang sangat akan menimbulkan perasaan-perasaan yang palsu. Ingat! Rasa kesepian hanya dapat diisi oleh pribadi Yesus.







