Dalam Department Keuangan Amerika Serikat ada sesuatu yang sangat menarik, yaitu ada yang disebut Conscience Fund atau dalam bahasa Indonesia berarti Dana Nurani. Dana ini menerima sumbangan sukarela dari orang-orang yang merasa bersalah yang dimulai pada tahun 1811.

Nama Nurani ini berasal dari sebuah surat yang dikirim dari mantan Quartermaster di Angkatan Darat kepada Francis E. Spinner yang saat itu menjadi bendahara Amerika Serikat. Dana ini telah mengumpulkan $5 di tahun pertamanya, dan meningkat menjadi $5.7 juta setelah 175 tahun.

Ada seseorang yang mengirimkan 9 sen karena ia menggunakan ulang perangko seharga 3 sen. Ada yang mengirimkan $40.000 dalam beberapa kali cicilan untuk membayar kembali $8.000 yang dicurinya. Kadang, pengirimnya benar-benar bertobat, tetapi juga ada yang mengirimkan surat, “Dear Kantor Pajak, saya tidak bisa tidur tiap malam karena saya curang dalam pelaporan pajak tahun lalu. Terlampir adalah cek sejumlah $1.000. Kalau saya masih belum bisa tidur juga, saya akan kirimkan sisanya.”

Walaupun tidak ada yang melihat dan tidak akan terbongkar, bila kita melanggar kebenaran, maka hati nurani kita akan berteriak keras sepanjang waktu sehingga mungkin membuat kita tidak bisa tidur nyenyak atau tidak bisa fokus melakukan sesuatu.

Dari hal sepele seperti bergosip hingga hal serius seperti korupsi, selingkuh, membunuh, nurani kita akan terus berteriak. Seorang filsuf Amerika, Alfred Korzybski berkata, “Tuhan mungkin mengampuni dosamu, tetapi sistem syarafmu tidak akan mengampunimu” sebelum kita membersihkannya dengan pertobatan, restitusi atau memperbaiki kesalahan dan perubahan.

Hati nurani yang bersih menghilangkan rasa bersalah dan malu.

Dengan hati nurani yang bersih, kita hidup dengan berani, yakin dalam doa dan kuat dalam menghadapi cobaan. Jika oportunis bertanya, “Apakah itu menguntungkan?” dan kaum hedonist bertaya, “Apakah itu menyenangkan?” Hati nurani bertanya, “Apakah itu benar?”

Namun sebenarnya, hati nurani kita berteriak bukan tanpa alasan, tetapi itu adalah Roh Kudus yang berteriak mengingatkan kita, karena Roh Kudus adalah penjaga, pembimbing dan penuntun kita untuk tetap tinggal dalam kebenaran. Roh Kudus bertindak seperti alarm yang berbunyi setiap kali kita melangkah menjauh dari kebenaran Firman Tuhan.

Hilangnya rasa kedamaian, hati kita yang berteriak-teriak, adalah salah satu cara Roh Kudus mengingatkan bahwa kita telah salah melangkah.

Tetapi, satu kali kita mengacuhkan alarm kita, yaitu Roh Kudus, kepekaan kita akan suaranya akan berkurang. Jadi tidak heran mengapa ada orang-orang yang tetap melakukan kejahatan, karena suara Roh Kudus dalam diri mereka sudah tidak terdengar lagi.

 

Sumber : Esther Idayanti | Ren | percayasaja.com