“Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yakobus 4:6).
Kerentanan kita bukanlah sebuah kelemahan. Malah sebaliknya, kerentanan adalah sebuah kekuatan!
Tuhan dapat menggunakan kerentanan kita dan menguatkan kita secara rohani, disembuhkan secara emosional, menarik dalam relasi dengan orang lain, dan dibentuk untuk menjadi seorang pemimpin. Berikut ini caranya.
Bersikap terbuka dan jujur kepada orang lain tentang kelemahan kita sesungguhnya menguatkan kita secara spiritual sebab itu membuka pintu kasih karunia Tuhan (Yakobus 4:6).
Kasih karunia-Nya merupakan kekuatan yang kita butuhkan untuk mengubah dan menerobos kebiasaan buruk dan kelemahan kita.
Kerentanan menyembuhkan kita secara emosional.
Yakobus 5:16 mengatakan, “Karena itu hendaklah kamu saling mengaku dosamu dan saling mendoakan, supaya kamu sembuh. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” Jika kita hanya ingin diampuni, maka kita tak perlu mengakui dosa kita kepada orang lain, hanya kepada Tuhan. Namun, jika kita ingin disembuhkan, kita harus berbagi kelemahan kita dengan orang lain. Tuhan telah merancang kita untuk saling membutuhkan supaya mengungkapkan perasaan kita kepada orang lain merupakan awal dari penyembuhan.
Kerentanan itu menarik hati secara emosional.
Alkitab berkata, “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal” (Yakobus 3:2a). Yakobus bahkan ikut memasukkan dirinya ke dalam pernyataannya tersebut. Ketika seseorang memberi tahu kita bahwa hidup mereka pun kacau, maka mereka dengan mudah menarik diri mereka lebih dekat dengan kita. Tak ada yang ingin menikahi atau berteman dengan seorang yang narsisis. Tetapi sebaliknya, ketika kita rentan, kita mengakui kelemahan kita dan bahkan mungkin menertawakan diri kita sendiri, kita lebih mudah menarik orang masuk ke kehidupan kita.
Menjadi rentan tidak hanya memberi kita kekuatan spiritual, membantu kita menyembuhkan, dan menarik dalam relasi dengan orang lain. Kerentanan juga merupakan syarat kepemimpinan. Jika kita tidak membiarkan diri kita rentan, maka kita bukanlah seorang pemimpin; kita hanya seorang bos.
“Siapakah di antara kamu yang bijak dan berbudi? Baiklah ia dengan cara hidup yang baik menyatakan perbuatannya oleh hikmat yang lahir dari kelemahlembutan” (Yakobus 3:13).
“Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu” (Yakobus 4:10). Tuhan menghormati kerendahan hati dan kerentanan kita dan menggunakannya untuk membentuk kita menjadi seorang pemimpin. Alkitab bisa benar-benar berlawanan dengan budaya populer, bukan? Dunia ini mengajarkan kita untuk membangun tembok pertahanan dan tidak terlihat lemah. Tetapi Tuhan mengajarkan kita untuk bermegah di dalam kelemahan kita, karena itu memperlihatkan kekuatan-Nya dan membuat kita lebih bergantung pada-Nya.
Tuhan Yesus memberkati.




