“Semua orang yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” (Roma 8:14-17)
Apa yang muncul dibenakmu ketika mendengar kata “warisan”?
Warisan adalah sesuatu yang diturunkan dari orangtua kepada anaknya. Warisan bukan hanya berbicara tentang harta saja, tetapi bisa juga banyak hal. Kita bisa menerima warisan berupa nilai-nilai atau karakter-karakter dari nenek moyang kita; dalam hal baik maupun buruk. Ada juga warisan yang otomatis kita warisi, yaitu warisan berkat atau warisan kutuk.
Ketika nenek moyang kita hidup dalam kebenaran Firman Tuhan, maka kita juga sebagai keturunannya juga akan menerima warisan berkat. Sebaliknya, ketika nenek moyang kita hidup dalam kutuk, itu juga akan menurun kepada kita.
Sejak Adam dan Hawa jatuh dalam dosa, kita sudah mendapatkan warisan dosa; itulah yang disebut sebagai dosa kecenderungan. Kita akan memiliki kecenderungan dosa yang sama dengan orang tua atau nenek moyang kita. Tetapi semuanya akan terus terulang dari generasi satu ke generasi sampai ada seseorang yang memutuskan ikatan dosa itu. Jika dosa itu masih melekat dengan kita, maka kita tidak akan bertumbuh maksimal dalam Tuhan.
Sejarah akan terus berulang, sampai ada seseorang yang masuk dan memenangkannya
Orang yang siap menerima warisan adalah seorang yang sudah akil balig
Yang dimaksud ialah: selama seorang ahli waris belum akil balig, sedikitpun ia tidak berbeda dengan seorang hamba, sungguhpun ia adalah tuan dari segala sesuatu. (Galatia 4:1)
Untuk menjadi seorang ahli waris Kerajaan Allah, kita harus belajar menjadi anak terlebih dahulu. Tetapi seorang ahli waris yang belum dewasa belum bisa menerima warisan. Karena itu, jika kita mau menerima warisan, kita harus dewasa terlebih dahulu. Kita semua adalah ahli waris Kerajaan Allah, tapi syarat untuk menerima warisan adalah dewasa secara rohani.
Demikian pula kita: selama kta belum akil balig, kita takluk juga kepada roh-roh dunia (Galatia 4:3)
Orang yang dewasa adalah orang yang hidupnya dipimpin oleh Roh Allah, dan tidak lagi takluk dengan roh-roh dunia. Banyak yang mengaku orang Kristen, tapi masih takluk kepada roh-roh dunia. Orang yang seperti ini tidak berhak menerima warisan dari Tuhan. Maka dari itu, jadilah dewasa di dalam Tuhan.
Seorang hamba adalah seseorang yang diperhamba oleh sesuatu, dan dia tidak berhak menerima apapun. Tetapi Tuhan tidak tidak lagi menyebut kita hamba, tetapi ahli warisNya (Galatia 4:4-7)
Kita harus kembali pada tujuan awal Tuhan menciptakan kita.
Status kita adalah anak raja. Karena itu kita harus sadar otoritas kita sebagai anak Raja. Ketika kita masih diperhamba oleh kutuk, kita tidak akan tampil sebagai anak raja. Kita diciptakan Tuhan pada mulanya sempurna, tetapi kita mudah jatuh bangun dalam dosa, tidak bisa bertumbuh lebih lagi dalam Tuhan; kita tidak bisa sempurna, karena dosa warisan yang diberikan kepada kita. Tetapi ketika kita menjadi ahli waris Kerajaan Sorga, kita diberi otoritas untuk mematahkan setiap warisan “pengemis” dalam hidup kita.
Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu. (Yohanes 15:16)
Kita adalah orang-orang pilihan Tuhan.
Kita diperintahkan untuk berbuah, dan buah yang kita hasilkan tetap. Sebagai anak Tuhan yang dewasa, kita tahu betul apa yang kita minta kepada Tuhan adalah sebuah kebutuhan, bukan keinginan semata. Selama kita minta kepada Tuhan, dan itu selaras dengan kerinduan Tuhan, Tuhan pasti akan memberikannya kepada kita. Belajar percayai Tuhan, karena dia pasti memberikan yang terbaik untuk setiap kita.
Kalau kita dewasa dan siap menerima warisan dari Tuhan, kita akan mendapatkan pemenuhan dari janji-janji Tuhan. Kita adalah buatan Allah, dan Dia rindu kita mengerjakan pekerjaan baik yang sudah disediakan-Nya untuk kita (Efesus 2:10). Maka dari itu, mari kita semakin bertumbuh dan semakin dewasa dalam Tuhan, supaya kita siap menerima warisan kita.
Sumber : grahacmc.org




