Banyak orang berpendapat bahwa Will Smith pantas untuk marah kepada Chris Rock di perhelatan Oscar kemarin. Seperti yang telah diketahui, Will Smith naik ke panggung dan menampar Chris Rock setelah menghina istrinya yang tampil dengan rambut plontos akibat penyakit Alopecia. Will Smith dinilai layak untuk marah, justru jika ia tidak marah dan malah ikut tertawa, itu tidak normal. Meski cara Will Smith untuk marah tetap tidak dinilai baik dan seharusnya Will Smith dapat lebih elegan menanggapi Chris Rock.
Marah adalah emosi yang dirasakan sebagai respon akan situasi yang mengganggu kita. Dalam keadaan tertentu, kita perlu marah. Namun, jangan sampai emosi ini merugikan orang lain maupun diri sendiri.
Mungkin orang tersebut tidak mengerti
Mungkin Chris Rock tidak tahu bahwa Jada, istri Will Smith, bukan botak karena pilihannya sendiri, melainkan karena sakit. Lain ceritanya kalau Jada memang botak karena ia ingin, agar keren dan berbeda, tentu Jada mungkin senang kalau namanya disebut. Seandainya Will Smith naik ke panggung, namun tidak menampar Chris Rock secara langsung, melainkan menjelaskan bahwa kebotakannya bukanlah pilihan dan Jada pun menderita karena hal itu, seluruh gedung pasti akan bertepuk tangan. Mungkin para penderita alopecia juga akan marah dan Chris Rock mendapat hukuman sosial.
Pikirkan akibatnya
Dipukul di depan umum, bisa jadi sama malunya dengan dijadikan lelucon di depan umum, apalagi pukulan tersebut juga menimbulkan luka dan disaksikan banyak orang di seluruh dunia. Chris Rock bisa saja menuntut Will Smith. Apapun alasannya, mengungkapkan kemarahan dengan kekerasan tidak dapat dibenarkan. Setiap orang bertanggung jawab untuk mengelola emosi dan perilakunya, tak peduli apa yang orang lain lakukan.
Alihkan dengan Positif
Will Smith dan Jada bisa saja melakukan walk out atau keluar dari acara, ketika Chris Rock membaut lelucon tentang Jada. Mereka bisa menjelaskan pada media dan mungkin membuat konferensi pers bersama yayasan alopecia. Dampaknya akan jauh lebih besar dibandingkan Will Smith naik ke panggung hanya untuk menampar Christ Rock. Boleh marah, tetapi marah yang menyelesaikan masalah.
Marah bukanlah sebuah dosa. Ada kondisi-kondisi tertentu di mana kita boleh marah, bahkan harus marah, marah untuk kebenaran, marah atas ketidakadilan, marah atas ketidakbenaran.
Namun demikian, dalam kemarahan kita, jangan sampai kita berbuat dosa. Ketika kita marah, seringkali kita tidak bisa berpikir degan jernih memikirkan dampak-dampaknya dan apa yang harus dilakukan. Karena itu, dalam kemarahan kita, sebaiknya kita menenangkan diri sejenak agar kita dapat berpikir dengan baik apa yang sebaiknya dilakukan.
Aristoteles mengatakan bahwa “setiap orang bisa marah, itu gampang. Tetapi marah dengan orang yang tepat, waktu yang tepat, tujuan yang tepat, dan cara yang tepat, tidak semua bisa melakukannya, dan tidak mudah.”
Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.
Efesus 4:26-27




