Ribuan tahun yang lalu, pelangi adalah simbol dari janji Tuhan, seperti yang ditulis Alkitab ketika Tuhan membuat janjiNya kepada Nuh. Namun sekarang ini, dunia mengenal warna pelangi sebagai simbol identitas dari kaum LGBT, singkatan dari Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender.

Dalam masa lampau, LGBT adalah hal yang jarang ditemui. Namun saat ini, dengan pengaruh media, figur publik, tokoh berpengaruh pesan-pesan kebaikan atas nama HAM, LGBT dianggap sebagai hal yang lumrah. Bahkan dari semua kalangan, baik artis, politik dan banyak profesi lainnya, tidak merasa malu mengakui dirinya seorang LGBT. Saat ini, banyak pernyataan dan penerimaan bahwa transgender adalah jenis kelamin ketiga.

Banyak kesaksian menyentuh tentang perjuangan orang-orang LGBT dalam membela hak dan mengejar kebahagiaannya. Dunia, yang dulunya mencela, saat ini semakin menerima, merangkul dan menganggap fenomena ini adalah kemajuan jaman. Pikiran terbuka disamakan dengan kebebasan memilih! Kebebasan dalam memperjuangkan kebahagiaan, kesenangan, dan keinginan hati. Sampai hari ini diketahui, 24 negara telah melegalkan pernikahan sesama jenis. Isu ini pun juga masuk kedalam kalangan gereja, bahkan sudah ada gereja yang mengkompromikan LGBT.

Penjelasan yang umumnya diberikan LGBT adalah jiwa yang tertukar. Kepercayaan ini membuat kaum LGBT berpenampilan sesuai jenis kelamin yang dirasakan untuk menemukan jati diri. Bahkan tidak jarang, mereka melakukan segala macam cara sampai mengubah jenis kelamin, yang mereka kira akan menjadi jawaban. Menurut penelitian, para LGBT memiliki kecenderungan untuk bunuh diri. Bahkan seringkali, mereka yang sudah melakukan operasi transgender merasa menyesal, karena tetap merasakan kehampaan, rasa tidak puas, dan berakhir tragis dengan bunuh diri.

Namun apakah dengan mengikuti kata hati, berusaha mengubah penampilan dan diterima oleh masyarakat adalah pilihan yang tepat? Suatu keputusan yang benar? Bagaimana seharusnya gereja bersikap?

LGBT adalah DOSA, bukan salah jenis kelamin, orientasi seksual ataupun kesalahan genetis

Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?
Matius 19:4

Jika kita menjadikan Firman Tuhan sebagai otoritas tertinggi standar kebenaran kita, seharusnya berbagai paham dunia tidak akan menggoyahkan cara pandang kita. Dalam teori psikologi, banyak teori mengatakan bahwa LGBT adalah bawaan dari lahir akibat kesalahan genetis. Namun sekali lagi, Tuhan tidak menciptakan LGBT.

Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.
Roma 1 : 26-27

Alkitab dengan jelas menentang hubungan sesama jenis, baik laki laki dengan laki laki (homoseksual) atau perempuan dengan perempuan (lesbian). Sudah seharusnya kita, sebagai pengikut Kristus, gereja Tuhan yang dewasa, mengambil sikap yang jelas dan tegas bahwa pernikahan sejenis adalah dosa dan sebuah kesesatan.

Mengasihi orangnya, menolak dosa LGBT.

Tuhan Yesus menerima orang berdosa, namun menghardik dosa itu sendiri. Kasih yang benar bukanlah penerimaan utuh sepenuhnya termasuk dosa, namun membawa orang kepada kebenaran. Gereja tetap menerima pribadi yang memiliki kecenderungan LGBT untuk dibimbing, dimuridkan dan mendukung pertobatan mereka. Di luar sana, banyak orang membully dan merendahkan LGBT dengan hinaan, yang sebenarnya justru membuat kaum LGBT tidak berani jujur akan keadaan mereka dan membuat mereka terjerumus semakin dalam, seperti narkoba, pornografi LGBT, seks sesama jenis, bahkan kecenderungan bunuh diri.

Menjadi rumah pelatihan dan pendisiplinan

Hal terbaik yang dapat ditawarkan gereja adalah menawarkan komunitas, keluarga rohani, yang mengarahkan LGBT untuk memiliki gambaran diri yang pulih seutuhnya. LGBT bukanlah jiwa yang tertukar, namun jiwa yang terikat. Orang yang memiliki kecenderungan LGBT harus belajar untuk dibimbing dan dimuridkan. Didisiplinkan dengan cara meninggalkan kebiasaan lama, seperti menonton film porno, memutuskan hubungan dengan sesama LGBT, mau mengubah kebiasaan lama dan digantikan dengan kebiasaan yang baru.

Perilaku LGBT bukanlah sesuatu yang harus diterima atau dibenarkan, namun diarahkan menuju kehendak Tuhan. Bukan berarti gereja menolak orang dengan kecenderungan LGBT. Kita tetap mengasihi mereka, namun kita harus dengan tegas dan berani untuk menyatakan dosa dan kesalahan.

Bagaimana terbebas dari LGBT?

  1. Sadar bahwa kecenderungan LGBT adalah dosa, dan mengikuti keinginan daging tidak akan pernah memberikan “kepuasan”
  2. Bersungguh-sungguh bertobat
  3. Mengakui dan konseling
  4. Mendisiplinkan diri, menyangkal keinginan daging
  5. Mengandalkan Tuhan

Kita hidup di akhir jaman di mana kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kalinya sudah semakin dekat, berdoa dan berjaga jagalah. Dunia sedang menuju kehancurannya dan gereja Tuhan harus mempersiapkan kedatangan TUHAN.

FAKTA SEPUTAR LGBT

  • Indonesia berada di urutan ke-5 dengan populasi LGBT terbanyak setelah China, India, Eropa, dan Amerika. LGBT diperkirakan 3% dari seluruh penduduk Indonesia.
  • Diperkirakan 10% penduduk dunia adalah LGBT (750 juta dari 7,5 Miliar)
  • Menurut survey 20% dari kaum LGBT terinfeksi HIV, 5%nya AIDS
  • Organisasi LGBT tertua di Asia berasal dari Indonesia
  • LGBT menggunakan film, lagu, novel, dan sosial media sebagai propaganda yang sangat efektif
  • LGBT identik bunuh diri, miras, narkotik, freesex.

“Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah
1 Korintus 6:9-10