Ratu Elizabeth II menutup usia pada hari Kamis, pukul 12.32 siang waktu setempat di usia 96 tahun. Pengumuman kematiannya diberikan oleh Istana Buckingham dan juga disampaikan melalui media sosial, seperti Twitter dan Instagram.

“Sang Ratu meninggal dengan tenang di Balmoral sore ini,” tulis akun resmi Twitter Keluarga Kerajaan pada Kamis. “Raja dan Permaisuri akan tetap di Balmoral malam ini dan akan kembali ke London besok.”

Berita ini muncul tak lama setelah Istana Buckingham mengumumkan bahwa ratu berada di bawah pengawasan medis di Balmoral. Dokter mengatakan bahwa ia khawatir akan kesehatan ratu. Istana Buckingham menyampaikan bahwa Ratu berada di bawah pengawasan medis dan berada di Kastil Balmoral, Skotlandia. Namun tidak ada informasi lebih lanjut mengenai pemimpin 15 kerajaan tersebut.

Setelah pengumuman, dikabarkan seluruh anak dan cucu Ratu Elizabeth datang ke Balmoral, termasuk pewaris tahta, Charles dan istrinya Camilla, serta Pangeran William. Pangeran Harry juga turut hadir, meski sang istri, Meghan, tidak terlihat.

Pada awal tahun ini, Ratu Elizabeth II telah melewatkan beberapa upacara, termasuk ibadah Minggu Paskah pada bulan April dan acara-acara terkait perayaan Platinum Jubilee pada bulan Juni karena masalah kesehatan dan mobilitas.

Uskup Agung Canterbury, Justin Welby dari Gereja Inggris menyampaikan duka mendalam dan memohongkan penghiburan Tuhan bagi keluarga yang ditinggalkan.

“Dengan kesedihan yang mendalam, saya bersama dengan seluruh rakyat, persemakmuran dan dunia berduka secara mendalam atas kematian Yang Mulia Ratu. Doa saya bersama Raja dan keluarga kerajaan. Semoga Tuhan menaungi dan menghibur mereka di masa-masa, minggu dan bulan-bulan mendatang,” ucap Uskup Agung Justin.

Uskup Agung Justin juga memuji kesetiaan Ratu Elizabeth II.

“Sebagai murid Kristus yang setia, dan juga Gubernur Tertinggi Gereja Inggris, ia menghidupi imannya setiap hari dalam hidupnya. Kepercayaannya kepada Tuhan dan kasihnya yang mendalam kepada Tuhan menjadi dasar bagimana ia menjalani hidupnya, jam demi jam, hari demi hari.”

Ratu Elizabeth lahir pada tanggal 21 April 1926. Selama Perang Dunia II, Ratu Elizabeth bergabung dengan Auxiliary Territorial Service Angaktan Darat Inggis, di mana ia menjabat sebagai mekaik dan naik ke pangkat Komandan Junior.

Pada tahun 1970, Ratu juga menjadi penguasa pertama yang meresmikan dan berpidato di Sinode Umum secara langsung. Sejak itu, Yang Mulia telah meresmikan dan berpidato pada sesi pembukaan sinode umum setiap lima tahun.

Pada 9 September 2015, Ratu Elizabeth secara mencatat sejarah menjadi pemimpin terlama dalam sejarah Inggris. Beliau juga meresmikan Kereta Perbatasan Skotlandia pada hari itu.

Sebelum naik takhta, Ratu Elizabeth menikah dengan Pangeran Philip pada tahun 1947. Dari pernikahannya, ia dikaruniai empat orang anak. Pangeran Philip telah lebih dulu meninggal di usia 99 tahun pada 9 April 2021. Pernikahan Ratu Elizabeth dan Pangeran Philip dianggap sebagai marriage goal karena terus bersama hingga maut memisahkan.

“Dalam doa saya kali ini saya juga mengucapkan terima kasih untuk pernikahan Ratu dan yang Mulia Pangeran Philip. Pernikahan mereka adalah contoh inspirasi dari pernikahan Kristen, berakar pada persahabatan, dipupuk oleh iman bersama, dan lahir dalam pelayanan kepada orang lain. Semoga yang mulia Ratu Elizabeth II beristirahat dalam damai dan bangkit dalam kemuliaan,” kata Uskup Agung Justin.

Saat kematian Ratu Elizabeth II diumumkan, lagu God Save the Queen melantun di berbagai sudut kota di Britania Raya. Bendera di Istana Buckingam juga diturunkan menjadi setengah tiang. Anaknya, Charles, menggantikan posisinya menjadi raja.

Sumber : berbagai sumber | percayasaja.com