Mendapat kritikan tentu tidak menyenangkan. Kritikan bisa membuat kita merasa terpojok dan terintimidasi. Kita mungkin merasa dianggap tidak mampu dan diremehkan, meski mungkin kritikan tersebut tidak bermaksud demikian.
Dalam buku How to Deal with Criticism yang ditulis oleh Dr. Hendrie Weisenger, kritik sebenarnya diperlukan karena memberi informasi kepada kita. Dalam hubungan dengan pasangan, memberi dan menerima kritik adalah kunci untuk bertumbuh bersama. Sementara dalam dunia kerja, organisasi akan berkembang atau gagal berdasarkan evaluasi tugas dan hasil kerja.
Beberapa waktu lalu, saat walikota Solo, Gibran, dilaporkan ke KPK atas dugaan korupsi dan pencucian uang, pendukungnya ingin menuntut balik dengan tuduhan pencemaran nama baik. Namun Gibran berkata dalam bahasa jawa “tekne wae” alias “cuekin saja.”
“Saya tidak merasa tercemar, kalau saya mencuri ya tercemar, lha saya tidak mencuri kok,” kata Gibran saat itu. Ia memilih fokus untuk bekerja dan mengabaikan tuduhan tersebut, apalagi menyiapkan tuntutan selanjutnya. “Seperti nggak ada kerjaan saja, sibuk.”
Ada kritik-kritikan yang merupakan serangan dan tidak perlu ditanggapi, bahkan perlu dibalas. Terkadang, kritikan dan serangan tersebut hanyalah sebuah gangguan yang membuat kita mengalihkan pandangan pada tujuan kita.
Bagaimana kita menanggapi kritikan dan serangan?
Siapa Sumbernya?
Kalau yang memberi kritikan adalah orang yang memiliki kredibilitas atau orang yang kagumi, atau mungkin dari orang yang mengasihi kita, tentu saja kita perlu memikirkan masukkan dari mereka. Orang-orang yang sibuk berprestasi justru malah tidak memiliki waktu untuk menjatuhkan orang lain.
Dengarkan dengan jujur
Meski kritikan disampaikan dengan tajam dan bisa menyakiti hati kita, apakah kita bisa menemui sedikit kebenaran di dalamnya? Mengapa mereka memandang seperti itu? Apakah ada yang perlu kita ubah? Jika kritikan disampaikan oleh partner dan teman kerja kita, bisa saja ia bermaksud untuk membantu kita mencapai tujuan. Justru kita perlu berterimakasih kepada mereka.
Jangan Masukkan Hati
Pendapat orang tentang dirimu tidak mendefinisikan siapa dirimu. Jadi tidak perlu tersinggung dan merasa terpojok karena harga diri kita diserang. Tanggapi kritikan secara profesional dengan takaran yang tepat. Seorang pemimpin harus berbesar hati, sebab kritikan dan serangan memang bagian dari jabatannya.
Kita tidak bisa menyenangkan setiap orang, karena itu kritikan pasti ada, entah dari orang yang kita kenal, maupun dari orang yang tidak kita kenal. Tetapi bagaimana kita meresponi kritikan, menentukan bagaimana kritikan itu berdampak bagi kita, negatif atau positif, seperti perkataan Will Self, “Kehidupan yang kreatif tidak bisa dibangun atas persetujuan orang, dan tidak bisa dihancurkan oleh kritikan.”
Sumber : Esther Idayanti






